Selasa, 07 Juni 2016

Yogyakarta, Mei 2016


Mei 2016 dibuka dengan liburan panjang di minggu pertamanya. Hari besar keagamaan yang jatuh di hari kamis dan jum’at menjadikan minggu itu sebagai sasaran empuk jadwal wisata ke berbagai daerah di seantero Indonesia.

Indonesia tengah ramai, dengan kendaraan-kendaraan yang memuat para wisatawan. Pesawat, kereta, dan bus, bahkan banyak juga yang menggunakan sepeda motor. Turis local maupun asing, berbaur dalam agenda yang sama, mengeksplor keindahan negeri Indonesia.

Saya juga. Rencana bertandang ke kota Yogyakarta memang tergolong dadakan. Hasilnya, saya sudah kehabisan tiket baik kereta maupun bus. Pesawat? Bukan pilihan untuk perjalanan jarak dekat tapi popular seperti Yogyakarta.

Yogyakarta memang sudah tenar dari zaman dahulu. Tapi, pembuatan film AADC yang berlokasi di beberapa tempat wisata di daerah istimewa ini, memicu minat wisatawan, yang kebanyakan adalah muda mudi untuk melihat langsung dan mengabadikan momennya masing-masing di sana.

Di malam keberangkatan, saya juga sempat dibuat kesal. Bus yang dijadwalkan berangkat pada pukul 8, ngaret sampai pukul 11 malam. Ya, macetnya Jakarta menjadi kendala sendiri. Tambah lagi, bus yang saya tumpangi adalah bus pariwisata, atau bus tembak.

Tapi, ada hikmahnya juga. Sembari menunggu bus, saya sempat berkenalan dengan beberapa calon penumpang, dengan tujuan yang sama dan ada juga yang berbeda. Sempat bertukar informasi dan bertukar kontak juga. Pemandangan lain yang mengusik saya, adalah beberapa rombongan yang memanggul carrier berbagai ukuran. Para pendaki itu membuat saya cemburu, saya rindu mendaki.
Pukul 11, akhirnya bus lepas landas. Seperti yang diprediksi, jalanan macet luar biasa. Sempat beberapa kali para penumpang berjalan kaki saking penatnya di dalam bus yang tidak bisa bergerak sama sekali. Normalnya, perjalanan memakan waktu sekitar 10 jam saja. Maksimal 12 jam. Tapi, perjalanan kali ini memakan waktu 23 jam! Yuhuuu, jadwal saya hilang satu hari.
Di sekitar Brebes

Karena sudah diagendakan, keesokan harinya saya langsung berangkat lagi menuju kota Ponorogo. Kota dimana adik saya sedang menuntut ilmu di salah satu pesantren ternama di tanah air, Pesantren Gontor. Kota yang terkenal dengan reog ini, memang memiliki banyak pesantren. Di sepanjang jalan, saya melihat banyak santri dengan usia yang beragam. Ada yang sepertinya masih di sekolah menengah pertama atau sekolah menengah atas.

Saya tiba di Pesantren tepat sebelum adzan ashar berkumandang. Dan baru sempat melepas rindu sekitar pukul 4 sore. Maklum, jadwal santri memang teramat padat. Selama 18 jam di sana, jika ditotal, saya hanya bias bertemu selama 1.5 jam dengan adik saya. Selebihnya, saya hanya berkeliling atau memilih tidak kemana-mana agar tidak melewatkan jam istirahat santri yang hanya sekitar 30 menit itu saja.

Pertama bertemu, saya sempat merasa asing dengan wajah adik lelaki saya ini. Tubuhnya tinggi, gempal dengan rambut pirang yang dicukur rapi. Dia sudah dewasa. Terakhir saya bertemu, satu tahun lalu, kami masih sama tingginya. Haru saya melihatnya. Sejak kecil, dia tidak pernah manja sama sekali. Tidak pernah bertingkah yang aneh-aneh,ataupun nakal seperti anak lelaki seusianya.
Sebaliknya, ia selalu berprestasi. Untuk masuk ke pesantren nomer satu di Indonesia ini saja, dia menduduki peringkat ke – 2 terbaik, mengalahkan ribuan pedaftar lainnya. Sampai sekarangpun, prestasinya masih masuk di 3 terbaik se angkatannya. Terimakasih dek :’)

Saya pamit esok harinya. Rencana saya berikutnya adalah Goa Gong Pacitan. Kota yang merupakan tanah kelahiran presiden Indonesia yang ke-6 ini terletak di ujung barat daya Provinsi Jawa Timur. Daerahnya yang berbatasan langsung dengan samudera hindia membuat pacitan kaya dengan pantai-pantai dan gua-gua yang indah. Salah satunya adalah goa Gong, yang dinobatkan sebagai goa terindah se-Asia Tenggara.
Goa Gong


Akan tetapi, niat saya ternyata tidak kesampaian. Dari penduduk setempat saya baru tahu, ternyata untuk mencapai goa gong, dibutuhkan waktu setidaknya 3-4 jam. Sementara, jam sudah menunjukkan pukul 10 ketika saya sampai di terminal, dan saya tidak ada rencana untuk menginap.
Akhirnya, saya putuskan untuk kembali ke Yogya saja. Yah, sampai jumpa lain waktu Pacitan J
Dari ponorogo, saya harus menggunakan bus kecil ke Madiun, lalu menggunakan kereta ke Yogyakarta. Ongkos yang dikenakan sebetulnya hanya 8 ribu, untuk sampai ke terminal. Beda cerita jika ke stasiun. Aturan di sini, bus tidak boleh masuk kota. Jika masuk kota, biasanya akan dimintai ongkos lebih oleh supir, yaitu sekitar 20 ribu.
Di Madiun, saya tidak sempat berkeliling. Pertama, karena waktu mepet, kedua karena wisata di kota ini rata-rata hanya bangunan bersejarah dan museum saja.
Tugu di dekat Stasiun Madiun


Saya suka stasiun, bandara, dan terminal-jika rapi. Tempat-tempat ini, selalu memberi kesan perpisahan dan pertemuan.
Stasiun Madiun

Tempat duduk saya terletak di deretak terakhir. Di belakang deretan tempat duduk sebuah keluarga yang katanya baru saja main ke tempat saudaranya di kota Madiun. Sepasang anak kecil ini, bersepupu, usianya sekitar 6 tahunan. Yang satu sudah masuk SD yang satunya masih duduk di bangku TK.


Riska dan Naura

Sepanjang perjalanan, keduanya tak henti bercanda, bernyanyi, tertawa, saling memeluk, bahkan tidak ragu-ragu mencium. Anak sekecil itu membuat saya cemburu. Gelak tawa mereka membuat saya rindu masa kecil. Rindu sepupu-sepupu saya, rindu teman-teman saya nun jauh di tanah sumatera sana. Ah, kami tidak pernah lagi punya waktu bahkan untuk sekedar berkirim kabar saja.
Melihat saya tersenyum pada mereka. Keduanya malu-malu menyapa saya. Bertanya nama saya. Bermain-main cilukba dengan saya. Ketika keduanya bertanya nama saya, tiba-tiba si kakek – biasa nya dipanggil kakung, berkata,

“Turun, salam tantenya” kata beliau tegas. Spontan keduanya turun dan menyalami saya.
Hati saya bergetar. Tata krama seperti ini, selalu dipelihara oleh orang jawa.

***
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 ketika saya tiba di stasiun tugu. Letak stasiun ini bersebelahan dengan Malioboro, jalan yang mejadi icon Daerah Istimewa Yogyakarta, dan juga diangkat menjadi salah satu lagu oleh Doel Sumbang, seorang artis era 80-an.

Satu hal yang wajib diketahui, kota Yogyakarta tidak menyediakan angkutan kota (angkot). Pilihan transportasi hanya berupa ojek dan andong. Jika hendak berwisata dan tidak membawa kendaraan pribadi, pilihan satu-satunya adalah menyewa kendaraan seperti sepeda motor atau mobil. Harganya variatif berdasarkan tipe dan usia motor, juga rentang waktu. Saya dikenakan 35 ribu untuk Mio keluaran 2014 selama 19 jam.

Setelah menyewa motor dan istirahat sejenak, saya ditemani seorang teman, langsung berangkat ke bukit Bintang. Bukit yang terletak di kaki gunung kidul ini ramai dikunjungi oleh wisatawan yang hendak menikmati pemandangan Yogya. Selain warung-warung makan, ada juga penjaja jagung bakar. Sebelum masuk ke warung makan, kami memutuskan untuk mampir di salah satunya.
Sembari menunggu pesanan, kami langsung mengambil posisi di pinggiran jalan yang tampaknya sengaja dibuat lebih tinggi agar dapat digunakan sebagai tempat duduk sembari menikmati pemandangan kota. Ini mengingatkan saya pada satu tempat di Kota Bandung, “Cartil”, biasa orang-orang menyebutnya.

Cartil adalah nama salah satu desa di Kota Bandung. Letaknya yang di atas bukit, membuat daerah ini dijadikan sebagai tempat wisata bagi orang-orang yang ingin melepas penat atau sejenak beristirahat dari kebisingan kota. Fakta ini lalu dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk membangun bisnis kuliner. Membuka rumah makan, dengan menu sederhana.

Jika naik sedikit dari Cartil, kita bisa menemukan bukit bintang. Ditandai dengan satu bangunan berbentuk bintang yang dihiasi dengan lampu-lampu. Tidak seperti di Cartil, di bukit bintang ini hanya ada satu café saja. Akrab disebut dengan Café bukit moko.

Yah, itu dia sepenggal kenangan saya di kota Bandung, tempat saya mengenyam pendidikan dahulu.
Jagung  bakar yang kami pesan kini sudah terhidang di depan mata. Rasanya memang maknyus, jagung yang dipilih tidak terlalu tua, dan bumbu yang digunakan betul-betul meresap hingga ke dalam. Jika saja kami tidak berniat makan malam, mungkin saya sudah memesan satu porsi lagi. Bagaimana tidak? Bumbunya betul-betul meleleh di lidah. Nyam nyam!
Karena handphone saya yang tidak memadai, saya tidak megabadikan momen apapun di sini. Yah, cukuplah tersimpan di ingatan saya saja. Dan lain kali, jika ke Yogya lagi, saya pasti masih ingat jalan ke sini J

Sesi bukit bintang ditutup setelah kami menikmati makan malam bermenu mewah namun relative murah itu. Sesi berikutnya adalah Zero Kilometer! Zero kilometer Yogyakarta ini, terletak di dekat monument serangan umum satu maret, yaitu di lintasan antara Alun-alun Utara hingga Ngejaman di ujung selatan Malioboro. Mitosnya, jika kamu menginjakkan kaki di zero kilometer, biasanya kamu akan kembali lagi kesana. Who knows?

Hal yang menarik dari tempat ini, adalah hiburan-hiburan kreatif yang berderet di sepanjang jalannya. Salah satunya adalah berfoto menggunakan papan-papan yang sudah diberi kata-kata kocak seperti ini.
Zero Kilometer
Atau berfoto dengan binatang seperti ular, burung hantu dan lainnya.
Di seberang monument serangan umum satu maret, terdapat beberapa toko buku murah. Memang, buku-buku ini adalah cetakan palsu. Saya coba membeli 2 buku, ternyata cetakannya seperti ini.

Buku Bajakan :P
Karena lelah yang sudah mendera sekujur tubuh, kamipun memutuskan untuk kembali ke rumah. Sesi hari itu ditutup.

Hari berikutnya, kami sengaja berangkat lebih pagi. Rencana awal, adalah berburu sunrise di bukit Punthuk Setumbu. Konon katanya, dari bukit ini kamu bisa melihat matahari terbit dari pucuk-pucuk candi Borobudur. Akan tetapi, karena bangun kesiangan, akhirnya kami baru berangkat pukul setengah 6, dan tiba di candi Borobudur sekitar pukul 7 pagi. Candi yang juga adalah tempat beribadah umat budha ini sebetulnya sudah bukan lagi termasuk wilayah Yogyakarta, melainkan Magelang.
Jika ingin berkunjung ke candi ini, pilihlah waktu sepagi mungkin. Kalau bisa jangan terlalu lama setelah pintu masuk dibuka, yaitu sekitar pukul 7.30. Pertama, belum begitu ramai, dan kedua, belum begitu panas.

Candi Borobudur

Sebelum naik, kalian akan mendapati pos yang menyediakan ‘sarung’ yang digunakan untuk masuk ke candi. Ingat, bahwa candi ini juga adalah tempat beribadah bagi umat hindu. Oleh sebab itu, bagi yang menggunakan pakaian minim, yaitu di atas dengkul, dan atau terbuka, wajib mengenakan sarung ini.
Sebetulnya, saya juga ingin sekali menggunakan pakaian khas ini, akan tetapi petugas tidak membolehkan. Katanya, sarung ini hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang saya sebutkan di atas. Yah, sayang sekali. Kamipun langsung naik ke candi.

Jika ingin mengambil spot yang bagus, lebih baik menjelajah candi dari lantai teratas (lantai 6) lalu turun ke bawah. Salah satu spot yang menarik dari atas candi ini adalah berlatar belakang gunung merapi. Sayangnya, jika matahari sudah mulai tinggi, spot ini agak sulit diambil.

Siluet Merapi dari Puncak Borobudur
Kami menghabiskan waktu sekitar 2 jam di dalam candi. Mengitari setiap lantai, mengambil foto di sekitar stupa. Setelah turun, kami beristirahat sejenak di salah satu warung minuman di dekat pasar. Harga di sini relative murah, termasuk harga souvenirnya. Pun jika dibandingkan dengan Candi Prambanan.

Dari Candi Borobudur, sebetulnya kami hendak ke Ketep Pas. Dari teman, saya tahu bahwa di ketep pas ini, kita bisa mengamati gunung merapi, dari jarak dekat. Sayangnya, tidak satupun di antara kami yang hapal jalan ke sana. Alhasil, kami salah jalan dan terpaksa kembali ke rumah untuk istirahat sejenak.

Pukul 14.00 siang, kami berangkat lagi menuju Candi Prambanan. Candi yang disandingkan dengan Candi Ratu Boko ini terletak di jalan lintas Yogyakarta - Solo. Candi Ratu Boko banyak dikunjungi oleh wisatawan yang berburu sunset. Bentuknya yang hanya selembar bangunan tipis, dan letaknya yang berada di atas bukit membuat candi ini sangat menarik untuk diabadikan di dalam foto.

Kami tiba di Candi Prambanan sekitar pukul 3 sore. Berbeda dengan candi Borobudur, candi Prambanan adalah persembahan umat hindu untuk tiga dewa utama hindu, yaitu Brahma, Siwa dan Wisnu. Beberapa candi yang dapat ditemukan di kawasan ini yaitu candi Siwa, yang terletak di tengah dan bangunannya paling tinggi, lalu Candi Brahma dan Wishnu, candi  Wahana, Candi Apit, Candi Kelir, Candi Patok, Perwara dan lainnya.
Candi Prambanan


Candi Siwa


Entah Candi Brahma/Wishnu



Candi Apit



Candi Kelir


Belum puas mengitari candi, tiba-tiba hujan deras turun. Tidak mungkin menjelajah candi dalam kondisi hujan juga gelap begini. Akhirnya, kami memutuskan untuk berteduh di salah satu bangunan candi. Di sini, lagi-lagi saya bersyukur karena menjadi orang yang tidak tahu malu dan blak-blakan. Karena sifat saya itu, saya mengenal mereka, Fabio dan Barg.

Barg, Saya, Ihat, Opik, Fabio

Awalnya, saya hanya menjadi translator dadakan untuk teman saya yang penasaran. Teman-teman saya di sisi kiri, Fabio dan Barg di sisi kanan. Saya menanyakan pertanyaan teman saya, dan mereka menjawabnya. Lama kelamaan, sayapun tertarik pada mereka. Ehm ,tertarik untuk memulai obrolan maksudnya. Jadi, mulailah saya melempar beberapa pertanyaan. Teman saya tiba-tiba luput dari pendengaran saya :P

Ternyata mereka ramah juga. Fabio yang merupakan penduduk Italia cenderung meriah dan cerewet, sementara Barg dramatic. Barg sempat membuat pengandaian tentang hujan yang sedang turun waktu itu. Katanya, ia suka mengamati hujan, mengamati langit yang tiba-tiba gelap dan rintik-rintik hujan yang berjatuhan. Serasa langit tengah runtuh dan jatuh dalam bentuk puing-puing hujan. Sepertinya dia tipikal yang diam-diam menghanyutkan.

Berbeda dengan Fabio, sepertinya dia tipikal mood booster, selalu menjadi penceria suasana. Awalnya saya dimintai untuk membuat video berisi kata-kata selamat untuk adiknya yang baru saja diterima bekerja di Google (Oh Men! Google!), lalu kami berfoto dan bertukar alamat facebook dan email.

Saya tidak tahu banyak tentang Barg setelah hari itu. Ketika membuat tulisan ini, saya baru sadar bahwa saya lupa meminta alamat emailnya. Tapi, yang saya tahu, mereka adalah “suddenly friend” yang bertemu di pesawat. Sama dengan saya dan teman saya yang baru kenal ketika menginjakkan kaki di Kota Yogya.

Bagi saya, adalah hal yang menyenangkan bisa mengenal mereka. Orang-orang yang akan selalu mengingat siapapun yang ditemuinya di perjalanan. Mereka tidak enggan berbagi informasi, share pengalaman berharga, kesenangan, yang mereka dapatkan di sepanjang perjalanan. Salam kenal Fabio, salam kenal Barg. Sampai jumpa di lain kesempatan J

Perjalanan berakhir di situ. Hujan yang turun deras hingga sore membuat kami terpaksa membatalkan rencana ke Candi Ratu Boko. Jujur saja, saya sangat kecewa. Pertama, karena perjalanan saya tidak mulus dari awal. Lalu, banyak tempat yang batal saya kunjungi.

Tapi, setelah dipikir ulang. Saya mendapatkan banyak pengalaman yang lebih bermanfaat. Saya bertemu orang-orang baik, yang merelakan waktunya untuk menemani saya ke setiap ujung kota Yogyakarta. Teman-teman baru dari Negara lain, yang membuka pengetahuan saya mengenai apa yang ada di luaran sana. Bagi saya, itu jauh lebih dari kata cukup.

Penutupan yang manis saya peroleh di hari berikutnya. Saya diajak jalan-jalan ke pantai Gunung Kidul, pantai yang sangat terkenal karena keelokannya. Bang Arza, teman satu daerah yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Dudi, yang setelah tamat SMP tidak pernah bertemu, tiba-tiba bertemu di sini. Dan Dendi yang terakhir kali bertemu dengan saya masih berwujud anak-anak. Mereka mengenalkan saya pada panti Ngobaran, Pantai Nguyahan dan Gesing.

Pantai Nguyahan
Pantai Ngobaran

Pantai Ngobaran

Pantai Ngobaran

Pantai Nelayan, Pantai Gesing


Kata Bang Arza, jangan datang ke Yogya, atau kamu akan dibuat rindu untuk kembali ke sana. Kenyatannya, saya sudah dibuat rindu, bahkan sebelum meninggalkan kota impian saya ini. Thank you Yogya J

Sabtu, 22 Agustus 2015

Papandayan Kedua :)

Selamat ulang tahun kemerdekaan yang ke-70,merdeka!, Ayo Kerja.  Kata-kata itu seperti warna yang mencorak-i beberapa sisi Jakarta selama setengah bulan terakhir. Bagi saya, yang adalah penghuni baru kota Metropolitan ini, euforia kemerdekaan cukup terasa dari spanduk-spanduk, bendera-bendera juga hiasan ala kemerdekaan yang sengaja dipajang di jalan, gedung, toko dan tempat-tempat publik lain juga rumah-rumah warga.
Tanggal 17 jatuh tepat di hari senin. Long weekend,begitu sebutannya bagi pekerja yang hanya aktif dari senin-jum’at. Biasanya, kesempatan ini dimanfaatkan orang-orang untuk melakukan perjalanan yang cukup panjang. Termasuk saya, dan beberapa rekan kerja lainnya. Kami akan mendaki gunung papandayan.
Rencana sudah ditanam dari sebulan setengah sebelumnya. Rekan saya yang punya ide, adalah satu-satunya wanita selain saya, Bu Ria. Mulai dari waktu, alat, peserta, semua dipersiapkan se-apik-nya. Setengah bulan sebelum hari H, persiapan matang sudah. Berikut adalah rinciannya :

Foto Oleh Bu Ria 
Foto Oleh Bu Ria

NB: saya tidak punya foto rincian perlengkapan kelompok.

Untuk administrasi, kami perlu menyiapkan fotokopi KTP yang akan diserahkan pada saat mendaftar masuk. Ya, pihak pengelola pasti harus bertanggungjawab dan memastikan kami kembali dengan selamat. Walaupun Papandayan tergolong gunung yang memiliki medan yang aman, tapi prosedur tetap harus dijalankan. Rasa tanggungjawab sudah tertanam dalam-dalam.
Karena beberapa di antara kami punya teman baik yang menyewakan alat-alat camping, peralatan sudah dapat dikumpulkan seminggu sebelum hari H. Jadilah persiapan kami lebih dari kata matang. Bu Ria, si planner yang satu ini memang selalu bisa diandalkan. Two thumbs up!

Tapii...

Selalu ada hal-hal di luar dugaan. Pancaroba menggugurkan peserta satu per satu. Mulai dari Bu Ria sendiri, yang harus istirahat total sejak sehari sebelum keberangkatan, Dani dan beberapa rekan yang ikut gugur satu persatu.

Jadilah kami hanya berjumlah 4 orang, dengan saya satu-satunya perempuan, Omegosh!

Tapi rencana tetap rencana, walaupun hampir ditunda, akhirnya kamipun tetap berangkat dengan peralatan dan perbekalan melebihi cukup.
Oke, ini dia! Sabtu pagi, pukul 06.00, dengan mobil pinjaman dari kantor, kamipun sudah merayap di jalan tol. Ramai lancar arus kendaraan pagi itu. Saya lupa kira-kira pukul berapa kami tiba di Garut. Tapi saya ingat bagaimana macet meregangkan rencana kami 6 jam dari target.
Saya bukanlah orang yang detil dengan rencana. Mungkin tidak satupun dari kami. Rusaknya jembatan menuju Desa Cisurupan di kaki gunung Papandayan, betul-betul tidak ada dalam rangkaian rencana kami.

Jembatan yang konon adalah jalan utama ini, mengharuskan sistem buka tutup yang berakibat macet berjam-jam. Kamipun mencari alternatif lain. Sedikit berputar-putar, akhirnya kami mengikuti arahan penduduk lokal untuk melewati jalur Cigedug. Mulai dari penduduk lokal, pendaki gunung, dan pedagang-pedagang, juga menggunakan jalan itu sebagai jalur alternatif dari dan ke Desa cisurupan. Jadilah kami terjebak di kemacetan berikutnya.

Jalur yang berada di tengah-tengah antara Papandayan dan Cikuray ini sempat menggoyahkan niat kami. Tapi, hari yang mulai senja memupus niat dadakan tersebut, ini bukan waktu yang tepat. Pukul 5 Sore, kami tiba di alun-alun Cisurupan, sempat mampir beristirahat dan repacking di salah satu warteg pinggiran jalan.

Oiya, ini hanya sebagian pengalaman kecil yang saya alami. Ketika menikmati santap siang tapi sore waktu itu, kami sempat bertanya tentang toilet.

“Bu, toilet dimana ya?”
Si, ibu yang adalah warga asli sunda, si penjaga warteg ini, langsung menyebutkan Mesjid yang berada dekat alun-alun Cisurupan tadi, 7 kilometer di bawah kami. Sempat saya membayangkan,

“Lalu kemana orang-orang ini buang air?Rasanya kami tidak melewati sungai sepanjang perjalanan tadi”

Saya abaikan perasaan ingin tahu tadi, terlebih karena rasa lapar yang sudah mendera. Setelah selesai, saya beranikan menumpang kamar mandi. Begini bahasanya,

“Bu, saya mau pipis. Boleh menumpang kamar mandi gak ya?”
Si Ibu spontan langsung menjawab.
“Oh, di seberang ada wc neng. Eneng nyebrang saja di sebelah sana. Trus ikutin jalan, itu ada mesjid. Atau ibuk antarkan saja, yuk?”

Begitu jawabannya bertubi-tubi. Saya tersentak, “Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”, begitu bukan? Bahasa sederhananya, “jika ingin nyaman di suatu tempat, jadilah penghuninya, bukan pendatang”-Windy Ariestanty. Selaraskan dengan bahasa mereka, hanya sesederhana itu.

Sabtu, 18 Juli 2015

Pari Island Get Away..!!

Pekerjaan baru? Apalagi yang lebih identik dengan kedua kata itu selain teman baru? Lingkungan baru? Suasana baru? Yeah!This is it. Tulisan pertama saya bertajuk liburan ala May Day 2015 bersama teman-teman baru plus kocak plus aneh * semoga mereka gak ada yang baca *, yeay!


Jakarta pagi hari, tidak ramai atau sepi sama sekali. Meskipun baru pukul 04.30, tapi di sekeliling jalan raya sudah merayap banyak sekali kendaraan bermotor. Salah satunya adalah sepeda motor kesayangan yang sengaja kami kendarai menuju meeting point pertama di sunter yang berlanjut ke meeting point PMC(Port Medical Center). Kami? Ya, teman yang satu ini sengaja datang dari Cikarang untuk ikut dalam rombongan kami loh, anda luar biasa mbak Tari!


Maka perjalanan pun dimulai. Satu, dua, tiga, empat dan lima sepeda motor berkumpul sudah. Namun, masih belum lengkap dikarenakan salah seorang anggota memilih untuk langsung menuju pelabuhan. Siapa lagi kalau bukan korlap kita yang ketjeeh, Bu Riaa!

Oaky, here we go. Pelabuhan Tanjung Priok, Kampung Nelayan atau apapun nama tempatnya, yang jelas saya tidak hapal. Tempat ini menyambut kami dengan becek dan hingar binger khas pelabuhan ditambah gelombang pengunjung yang mulai beriak-riak di sekitar area penambatan kapal penumpang, weseeeeeh bahasanya dooongse!
Ini dia! Suasana di dalam kapal sembari memuat penumpang. 




Apapun judulnya, yang pasti suasana di dalam kapal mulai terasa panas oleh lelucon-lelucon yang datang entah dari mana rimbanya.:P
Sekitar pukul 08.30, tambat kapal pun akhirnya ditarik, mesin dinyalakan dan kapalpun dijalankan. Butuh waktu setidaknya 2 jam untuk mencapai dermaga Pulau Pari, satu dari gugusan pulau seribu yang akan kami kunjungi.

Pulau Pari? Setidaknya saya tahu bahwa di pulau yang berpenduduk 1000 KK ini ada banyak sekali penjual pisang goreng. Hampir seluruh warung kecil menjajakannya karena alasan yang sampai sekarangpun saya masih belum tahu,ckckck.
Kami disambut oleh korlap travel agent beserta tourist guidenya di tepian dermaga, dihantarkan menuju Home stay sebelum istirahat untuk persiapan agenda Snorkeling pada siangnya. Eits, tentu masih ada sesi welcome drink plus foto-foto dan makan siang yang mengantri di urutan paling awal. Ini diaaa..!



Sebelum snorkeling foto-foto dulu brooh!






Dari 10 orang anggota rombongan, saya sempat menjadi salah satu korban mabok laut. Sempat turun sebentar di spot pertama sebelum akhirnya muntah-muntah *iuuuuuh, maaf ya cemans airnya dikotorin*.  Beda ceritanya di spot kedua, dibantu oleh bebrapa teman sayapun memberanikan diri untuk turun lagi dan belajar cara bernafas yang baik dan benar menggunakan mulut.
Yap! I make it! Saya betul-betul dibuat ketagihan setelah bisa berkeliaran sendirian, mengintipi terumbu karang di bawah permukaan laut dan memancing ikan-ikan dengan cubitan roti di tangan. Totally, it’s amazing guys!!
Me & Mba Tari 


Masih dalam keadaan basah-basah, kami sepakat untuk mencoba wahana Banana Boat. Meskipun harus ada biaya tambahan, tapi sesi ini punya twist-nya tersendiri. 

Sore mencapai ujungnya ketika kami sedang menikmati sunset di pantai sekitar area LIPI. Walaupun hanya dengan penampilan seadanya, akan tetapi matahari sore itu berhasil menghadiahi kami banyak sekali foto bertema siluet.Yuk kita intip beberapa!







Sebagai salah satu fasilitas travel agent, kami dilengkapi dengan sepeda mini per orangnya. Sayang sekali, setelah seharian ditinggal sepeda pun hilang beberapa. Like Pak Yudi says “sedihlah saya”.


Malampun menyapa ramah, tidak dingin apalagi panas. Berada di sudut pandang yang luar biasa, saya leluasa mengamati laut yang dihiasi deretan lampu dermaga di salah satu sisinya. Bersama angin yang berbisik pelan-pelan, saya menikmati cengkrama kami di pinggiran teras sembari menunggu antrian kamar mandi yang luar biasa panjangnya, 1 untuk 10 orang yang seharian penuh bermain dengan air laut.
Okay, makan malam kali ini double. Hanya berjarak setengah jam, kami dijamu lagi dengan barbeque ala mati lampuuue Pantai Pasir Perawan. Mau tau bagaimana rasanya?
Kayak gini niiih..

 
Cilukbaa..:D
Malam ditutup di tempat ini, Pantai Pasir Perawan. Sayangnya tempat ini tidak terlalu menarik jika malam hari. Berbeda ceritanya di siang hari, pantai ini memesona!!


                                                      





Nah, mau di laut atau di gunung, semua tempat wisata akan lebih mengabadi jika dibekukan di dalam foto para pengunjungnya, bukan? Ya, ini dia beberapa tempat sekita pantai yang sukses memenuhi memori handphone, camdig dan sejenisnya milik kami.

Meskipun terbilang cantik, secara pribadi pulau ini tidak memuaskan. Memang, pantainya masih terbilang asri, dan tidak banyak sampah berserakan, pengunjung tidak begitu padat, juga makanannya layak disebut sedap, hanya saja tidak cukup mampu menarik keinginan saya datang kemari untuk kali yang kedua. Ya, mungkin lain kali saya memilih untuk mampir di gugusan lainnya saja yaa :)

Sampai jumpaaa..!!