Jumat, 22 Januari 2016

Sabtu, 16 Januari 2016

Puzzle Terakhir


PUZZLE TERAKHIR
A Story By : Adoh.
Moura.
Aku merengkuh di atas bantal persegi-ku, mengotak atik ponsel sembari memijat-mijat punggungku yang bak ditimpa beban 100 kg.
Jam digital-ku sudah tiba di angka 5, tapi cahaya di balik jendela selebar dindingku seperti tidak mau ikut serta mengakhiri siang begitu saja, matahari masih terik. Di jam-jam seperti ini aku sangat gemar duduk di sini, sebuah jendela lebar sedinding yang mempertontonkan cahaya matahari yang malu-malu turun dari singgasananya. Di balik tirai transaparan jendela kamarku, aku bisa menonton rona-rona merah membuncah di kanvas cakrawala, menandakan senja sudah hampir tiba.
Malas-malas aku memutar kursor hanya untuk melihat sudah seberapa jauh pekerjaanku sepanjang siang tadi. Sembari meneguk sirup mangga dari gelas yang mengembun di sebelah meja lipatku, aku mengkoreksi beberapa tanda baca sebelum akhirnya menekan icon bergambar disket di sudut atas kiri dan icon silang di sudut berlawanan.
Beralih ke browser “google chrome” aku memutuskan untuk menyelingkuhkan otak-ku dari makalah yang sudah sesiang ini menganga di layar 11” itu. Sebuah tampilan dengan warna dasar putih berhiaskan biru muncul di layar browser, facebook.
“Randa Moura(Amoura)” , aku mulai mengacak-acak akun berusia 3 tahun ini, menjelajahi beranda dan mengomentari status-status yang muncul di beranda.Memutar kursor ke bawah, mengomentari, memutarnya lagi dan..
Sederet kalimat mengejutkanku,
“Bandara International Minangkabau->Soekarno Hatta-> Wisma Asri, Bandung”. Seperti diburu setan, tanpa ba bi bu aku membuka akun miliknya dan membaca status-statusnya.”Mau kemana dia? Apa yang dilakukannya di sini?”tanyaku dengan detak jantung yang menggebu-gebu.
Belum sempat aku menghela napas, status berikutnya membuatku nyaris menjerit.
“Sampai jumpa di seminar ya”.
Aku tersedak, seminar apa yang dimaksudnya? Wisma Asri? Seminar? Itu kan…
***
Atta.
Kota ini jauh berbeda dengan kota-ku. Di Pulau Sumatera, tidak ada kemacetan sepanjang ini apalagi teriakan klakson bus kota yang sahut menyahut memecah gendang telinga, bising sekali. Aku baru tiba di Kota Jakarta. Cukup sejam saja waktu-ku untuk meyakinkan tidak ada alasan untuk tertarik tinggal di kota penuh debu seperti ini.
Elf-kami meluncur di jalan raya. Keempat rodanya saling memacu meninggalkan senti demi senti Bandara Soekarno-Hatta, tempat kami dijemput oleh panitia. Matahari cukup terik, September menyapa kota ini dengan panasnya. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh badan elf. Sekitar 10 orang sedang larut dengan fantasinya masing-masing. Aku bersebelahan dengan Nanda, peserta asal Sulawesi. Duduk di kursi sebelah supir, Lika, satu-satunya penumpang wanita dan panitia yang menjadi guide kami sejak tiba di Cengkareng tadi. Dari Nanda, aku tahu bahwa Lika adalah seorang reporter Stasiun televisi swasta Kota Bandung. Untuk ukuran perkenalan kami yang belum seumur jagung, Nanda tahu terlalu banyak tentang Lika. Seperti laki-laki 24 tahun itu sudah mengenalnya jauh lebih dulu.
“Kira-kira kita sampai jam berapa ya?”bisikku pada Nanda
“Umm..aku kurang tahu,tunggu sebentar”, Nanda mengetikkan pertanyaan-ku di layar ponselnya dan send to Lika, aku semakin curiga.
“Kita akan sampai sebelum pukul 3 sore ini” jawabnya kemudian.
“Oh baiklah, terimakasih” ucapku sembari membiarkan Nanda kembali asik dengan sms-smsnya.
Aku merogoh ponsel-ku, melihat jam digital yang baru menunjukkan angka 13:15. Di menu facebook, aku mencari-cari nama seseorang di daftar “obrolan”, membuka profilnya, berharap menemukan sesuatu di sana.
“belum mengertikah dia?”aku mencelus.“Touch down Bandung, on the way to Wisma Asri” ketikku lalu mematikan internet.
Di luar jendela, jalanan membelok ke arah tol Cipularang, menyuguhkan pemandangan baru yang lebih sepi dibandingkan jalan-jalan kota yang kami lalui tadi. Udara AC perlahan mengusik kenyamanan-ku. Kantuk menjalar secepat air yang merembesi helaian tisu. Aku menyerah saja.
***
Moura.
Aku menekan bel rumah berukuran sederhana itu, untuk kedua kalinya namun tidak ada jawaban. Gugup, kesal dan bingung, akhirnya aku menekan bel untuk ketiga kalinya. Tepat sebelum menyentuh permukaan bel, terdengar suara pintu dibuka dari dalam. Seorang wanita tua berbalut daster muncul di balik pintu. Tanpa membuka utuh pintu rumahnya, si wanita tadi melempar pandangan mencela ke arahku lalu menggumamkan sesuatu yang ku dengar sebagai, “tidak tahukah ini jam tidur siang?”
Aku berusaha tersenyum semanis-manisnya, sembari berkata “ Maaf Bu, saya Amoura yang tempo hari menelepon Ibu untuk wawancara…blaa blab la”
Perbincangan kami berlangsung panjang. Setelah menyuguhkan teh yang terlalu manis, dan biskuit cokelat di hadapanku, wanita itu mulai memaparkan beberapa jawaban skeptisnya. Tanganku bergerak jeli, mencatatkan beberapa kalimat penting sembari menjaga ‘koneksi’-ku tidak terputus dari gambaran yang diberikan oleh si narasumber wawancara.
Aku menutup wawancara kami dengan sempurna. Satu jam wawancara kami berakhir tepat di pukul 3 sore. Ini wawancara-ku yang ketiga minggu ini, sekaligus juga narasumber terakhir yang akan aku muat di dalam makalah untuk seminar-ku besok.
Aku sangat gugup, sebenarnya takut. Sudah sebulan terakhir aku mempersiapkan topik makalah yang akan ku bawakan pada seminar besok. Sekitar 90 jurnalis akan hadir di sana, dan Atta? Ya mungkin saja dia salah satunya.
Jalanan Dago selalu riuh dengan warna-warni kota Bandung. Musisi jalanan, muda-mudi bahkan orang tua selalu menemukan alasan unik untuk sekedar singgah di monumen “D A G O” bercatkan merah di simpang ini.
Dari jalan Taman Sari aku sengaja membelokkan rute-ku ke  Simpang Dago. Tujuanku bukan Simpang Dago, namun bangunan yang berjarak setengah kilometer darinya, Wisma Asri. Aku memacu sepeda motor dengan kecepatan 45 km/jam. Namun kecepatan detak jantung-ku seperti tidak ingin kalah. Serasa berdetak 10x lebih cepat, aku semakin tidak karuan ketika tiba di pintu wisma.
“Welcome to The National Journalist Seminar 2014”, sebuah spanduk bercorak hijau-orange menyambut aku yang memaku di pintu utama. Beberapa kerumunan peserta sudah nampak di anjungan depan. Riuh redam berkenalan dengan beberapa peserta dari daerah berbeda, tampaknya.
Aku tidak sedikitpun terusik oleh euforia di sana. Masih di depan pintu, perang dingin berkecamuk dalam otak-ku. Hanya beberapa langkah di depan, aku bisa menemukan nama yang ku cari dan letak kamarnya di denah. Tapi keberanianku surut bahkan untuk mendekat satu langkah saja. Aku bisu dan lumpuh, ingatanku seperti tidak ingin kompromi dengan memori baru si ‘masa silam’-ku itu, ku putuskan untuk pulang saja.
***
Atta.
“Finally Banduuung..yeeee!” pekik salah seorang peserta merenggut kantukku dalam sekejap. Elf yang ku tumpangi kini sudah bertengger bersebelahan dengan bus peserta lainnya. Beberapa peserta sudah turun ke halaman bangunan yang aku tebak sebagai Wisma Asri, tempat kami menginap selama seminggu ke depan.
Aku tidak mau ketinggalan. Dengan nyawa yang belum terkumpul seutuhnya, aku menarik ransel ke atas bahu, mendekati Nanda yang berdiri tepat di belakang Elf, tidak ada Lika.
“Kemana guide kita?” tanyaku pada Nanda
“Itu..”tunjuknya pada dua sosok wanita di pintu utama wisma.”ayo kesana”
Aku berjalan di belakang Nanda, mendatangi Lika yang sudah menunggu kami tepat di mulut Wisma. Tapi langkahku seketika terhenti saat menyadari siapa yang ada bersamanya. Nafasku serasa hilang dalam sekejap, jantungku berdetak berkali-kali lebih cepat, adrenalinku meningkat drastis.
“Amoura..”nama itu hilang di tenggorokanku bahkan sebelum berhasil diucapkan. Wanita dengan jepitan yang menjumputi rambut melampaui bahu itu sepertinya tidak sadar ada mata yang melekat dalam padanya. Mataku, lidahku, otakku semua kehilangan keseimbangannya, bahkan untuk berteriak memanggil 1 nama saja, namanya.
Aku membiarkan saja sosok itu berlalu di depan kami, bahkan tanpa menoleh.
***
Moura.
 “Kriing kriiing kriiiing..”alarm-ku memekik dari atas meja. Masih dalam keadaan belum sepenuhnya sadar aku merangkak super malas-malasan lalu menekan tombol “off”.
Matahari sudah terang di luar jendela, namun itu tidak berhasil membujukku untuk bangun sama sekali.Kasur yang empuk,  bantal yang lucu seperti tersenyum melebarkan tangan menungguku kembali menghampirinya.Udara pagi Bandung selalu berefek sama, kantuk yang menyerang tanpa ampun membuatku malas bahkan untuk menarik turun selimut apalagi beranjak ke kamar mandi.
Lima belas menit berselang, dering alarm kedua terdengar dari ponsel.
“Iyaaa..iyaaa..” aku menyerah.
Kejadian berikutnya, aku sudah meluncur di antara pengendara sepeda motor lainnya. Dari jembatan layang, aku bisa melihat kabut masih betah berlama-lama menyelimuti pemukiman penduduk yang ramai di kaki bukit, wajah Bandung di pagi hari.
Aku berbelok turun dari jembatan layang tepat ketika papan penunjuk arah menunjukkan arah Dago. Mengambil rute lurus lalu berbelok di Simpang Dago, aku berhenti tepat di gerbang Wisma. Membelokkan arah menuju parkiran dan memilih posisi paling nyaman untuk meninggalkan matic-ku di sana.
Aku terkesiap saat menyadari ada sepasang mata menancap tajam melalui kaca jendela. Darahku berdesir, saat sadar siapa pemilik mata itu. Semua buyar, jantungku berhenti berdetak dan otakku menolak untuk berfikir, aku membeku.
Saat kudapati kembali kesadaranku, yang bisa kulakukan hanya berlari sekencangnya.Tidak ingin menoleh, tidak ingin tahu apapun tentang orang itu.
“Dia tidak ada di sana!Itu bukan diaa..dia tidak ada di sana” ucapku berkali-kali.
***
Atta.
Apapun yang ku dengar tentang Kota Bandung, tidak ada yang keliru. Udaranya yang dingin, segar dan etnis yang berkembang di dalamnya, semuanya menakjubkan. Aku merapatkan jaket sebelum beranjak turun ke ruang makan untuk sekedar menyeruput teh hangat, sangat menggiurkan pada suhu seperti ini.
Ruang makan sudah ramai, koridor pun masih padat oleh para peserta yang baru tiba. Semuanya menggunakan name-tag, akupun sama. Bersama Nanda, dan Septa-teman sekamarku, kami memilih sebuah meja paling sudut untuk menikmati menu sarapan pagi itu, nasi kuning dengan ayam suwir menghiasi permukaannya. Melalui kacanya yang transparan, ruangan ini menyuguhkan pemandangan taman belakang dan juga lapangan parkir di sisi yang berbeda.
Saat pandanganku tertuju ke lapangan parkir, aku terkejut dengan apa yang kutemukan di sana. Seorang wanita berambut digerai melampaui bahu, dengan jepitan menjumput beberapa helai rambutnya ke belakang. Sweater yang meliliti lehernya yang telanjang, dan beberapa rambut ikalnya yang terjatuh di depan telinga, gaya yang familiar. Apa kabar dia?
Entah apa yang menggerakkan kakiku, tiba-tiba aku sudah berada sangat dekat dengan sosok itu. Hanya ada kaca jendela yang menghalangi kami. Aku menatap selekat-lekatnya. Ada rasa yang membuncah melampaui akal-ku yang aku tidak tahu masih normal atau tidak.
Sadar sedang diamati, wanita itu mengedarkan pandangannya ke arahku. Matanya yang berwarna cokelat seketika terkunci dengan mataku.Saling menatap lekat satu sama lain, tatapan kami seperti sedang berbincang tentang sesuatu, luka lama.
Mata kami bertautan selama beberapa menit.Saat terlepas,dia lalu berlari sekencangnya, meninggalkan aku yang masih tenggelam dengan ratusan tanda tanya. Dia menangis.
***
Dia masih menunggu, di antara gerombolan peserta perkemahan yang tersisa, matanya awas mencari seseorang. Dengan rok yang berlumuran lumpur dan muka yang kusam, gadis itu tak henti mengedarkan pandangannya ke seluruh peserta yang masih di sana.
Hiruk pikuk peserta lambat laun memudar, meninggalkan dia yang masih termangu seorang diri.
“ Heii masih nunggu ya?” seseorang merangkul pundaknya tiba-tiba,
“eh..iiya”
“Maaf ya baru selesai briefing-nya. Hayu pulang”
Selalu tiba-tiba, laki-laki itu tidak pernah memberinya kesempatan apapun bahkan hanya untuk berkata iya atau tidak. Dengan mata yang masih terbelalak kaget, gadis itu berusaha mengimbangi tubuh bagian depannya yang sudah ditarik lebih dulu.
Malam yang sepi, tidak berarti apa-apa baginya. Satu-satunya yang dia ketahui, malam selalu damai saat dia bersama lelaki di sebelahnya. Mereka bergandengan di sepanjang jalan pulang.
“Amoy..bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”
“Iya..bertanya apa?”
“Saat tamat sekolah nanti, kamu akan kuliah dimana?”
“Aku belum tahu, yang aku tahu aku selalu tertarik dengan Pulau Jawa. Bagaimana menurutmu?” Gadis itu menjawab lantang, bersemangat dan antusias.
“Pulau yang bising itu? Aku tidak pernah tertarik untuk mengunjunginya”

Jawaban si lelaki entah mengapa menghisap lagi semangatnya. Mengurungkan niat si gadis untuk bercerita bahwa dia sudah melamar semua kesempatan yang ada. Ada kesenjangan yang merayap pelan-pelan di antara mereka, seperti memisahkan mereka di antara dua tebing yang berbeda.

To be continued...


Rabu, 16 Desember 2015

Andai Kamu hidup di zamanku, Nak


Aku tidak pernah sabar menunggu mendung, melihat butir-butir kristal yang kemudian jatuh merayapi kulitku yang telanjang.
“Jangan mandi hujan!”
Larangan itu sudah rutin kudengar, setiap ibu melihatku mengintip jahil pada tirai langit yang mulai kelabu. Tapi, bukan anak kecil seumurku rasanya jika tidak bersembunyi di balik pintu, menunggu ibu hilang dari pandangan, lalu menghilang bersamaan dengan daun pintu yang menutup.
“hmm..masa kecilku itu” kenangku manis,
“Lalu apa yang kalian lakukan di bawah hujan, Ayah?”
“Kami? Kamu tidak akan percaya, Nak”
Aku tertegun sejenak, membiarkan kenangan merayapi senti demi senti alam fikirku. Menghirup aroma rindu yang  perlahan merebak. Ya, aku rindu, rindu pada bau rerumputan, rindu pada lembab tanah yang kami pijak. Waktu itu, kami akan berlarian di tanah kosong, saling mengoper bola kecil yang kami buat dari rotan,memainkan pelepah kelapa yang ditumpangi beberapa anak. Salah seorang di antara kami akan menarik pangkal pelepahnya. 
Bersorak-sorai saat kecepatan mulaibertambah.
“Bolehkah aku melakukannya suatu kali nanti, Ayah?”
Aku tersenyum, mengusap pelan wajah kecil yang meringkuk di pahaku itu.
“Ya, tentu boleh, Nak. Tapi kamu harus tidur sekarang. Karena aku punya lebih banyak cerita lagi untukmu besok”
***
Aku menekur di sebelahnya,melihat iri pada wajah damai bocah yang tengah terlelap di sebelahku itu.Menatap wajahnya, mengingatkan aku pada wajah kecil yang hampir sama bertahun-tahun lalu, wajahku.
“Andaikan kamu dapat hidup dimasaku, Nak” Beberapa dekade sudah berlalu, banyak episode kehidupan sudah berakhir. Pohon yang tumbuh pun telah pula tumbang, berganti gedung-gedung yang tinggi menjulang, simbol perubahan zaman. Perubahan itu menjalari semua aspek, terlalu dalam hingga merubah setiap lapis kehidupan.
Tidak ada lagi anak-anak yang berkejaran layang-layang, tidak ada lagi anak-anak yang bermandi lumpur di tengah sawah, yang tertinggal hanya anak-anak yang meringkuk malas di depan televisi,menonton serial drama atau berlomba menjagokan tokoh game yang diperankannya.
“Ayah, pernahkah Ayah menaiki punggung kerbau?”
“Ya, tentu. Kami menaikinya ditengah sawah yang berlumpur milik ibuku”
“Boleh aku melakukannya juga?”
“Tentu anakku, nanti.”
Kamu akan tersenyum sumringah,menyamarkan guratan-guratan letih yang terurai di mukamu. Akupun berusaha mengimbanginya, kepuasan yang terpantul dari wajah lancipmu itu.
“Andaikan kamu dapat hidup dimasaku.Tentu kamu akan sebahagia aku.” Aku mendesah di dalam hati.
”Menaiki punggung kerbau, merasakan licin lumpur yang lengket di permukaannya. Menarik layang-layang dan berlarian mengejarnya, menaiki pelepah kelapa dan bergelut diatasnya, menendang bola-bola rotan, apapun yang kamu inginkan, anakku.”
“Ayah, aku ingin duduk di sebelahmu. Bolehkah aku turun dari kursi roda ini? “
“Tentu, Nak”
Aku meraihmu, menggeser tiang infus yang mengaliri lengan kirimu. Aku merapikan kursi reot kita,meletakkan bantal agar nyaman untukmu.
Aku masih ingat kejadian pilu itu. Ketika sebuah pabrik baterai mengumumkan kebocoran limbah yang hampir meracuni seluruh pemukiman penduduk di sekitarnya. Ibumu, dengan kandungan delapan bulannya tidak dapat diselamatkan. Tapi nasib berpihak baik, kamu selamat dengan leukemia yang menggerogoti seumur hidupmu.
“Tidurlah, Nak. Aku akan memutarkan lagu kesukaanmu”
Lalu kita akan tenggelam dalam alunan melodi, melambungkan lamunan pada batas tertinggi angan.

“Que sera sera, whatever will bewill be. The future isn’t ours to see”


Sabtu, 23 Mei 2015

Bintangku

Bahkan ketika kelam beriak di angan,
Kau masih saja muncul,
Menyalakan asa mengibaskan lara
Bertahta di sana, setara dengan cita..

Kau tinggi,kau jauh,kau gemerlap
Kau bintangku,meski aku hanya serupa gelapmu..

Minggu, 10 Mei 2015

The abstract of me


Tidak jelas sejak kapan kita berkenalan. Setahuku, kau sudah ada sejak aku masih baru bisa mengeja. Kau temanku satu-satunya. Aku hanya tahu, orang-orang akan memandang aneh padaku, pada kita.

Mama senang sekali melihatku bersamamu. Tapi papa tidak, matanya geram melihat kau berada di dekatku. Papa tidak pernah mengerti, aku tahu. Selalu mama yang mencegatnya jika papa mulai bertingkah aneh hendak melerai kita berdua.

Aku tidak punya teman lain, cuma kamu. Menurutku pun cukup kita saja, tidak perlu orang ketiga. Omong-omong, kita sudah dewasa. Sudah masuk SMA sekarang. Aku tumbuh seperti seorang lelaki, memang seharusnya bukan? Tapi jangan bilang seperti papa, karena papa tidak pernah mau disebut mirip denganku.

“Ma, kenapa papa selalu begitu?”
“Biarkan saja. Papamu hanya belum mengerti.”

Unexplainable things


‘Apa yang kau ketahui tahu tentang Cinta Sejati?’ aku pernah bertanya seperti itu padamu.

Tapi kau selalu tersenyum, lalu mengecup keningku. Dan kita akan berjalan lagi di pinggiran jalan raya, membiarkan riuh redam irama jalanan melantun sesukanya. Yang pasti, kita punya nada sendiri yang melantun hanya di telinga kita.

‘Mengapa kau datang ke kota ini?’ aku juga pernah bertanya itu.
‘untuk bertemu takdirku menemanimu.’ 

Seperti itu kata-katamu. Selalu semua itu diiringi irama jalan raya di dekat tempat tinggal kita.Setiap malam kau akan berbaring di sebelahku. Membelai rambutku sampai aku tertidur.

Kau akan berbisik, ‘cinta sejatiku adalah kamu’. Itu akan cukup menjadi cerita penghantar tidur yang membuatku nyenyak semalam suntuk. Saat aku bangun, kau selalu sudah duduk di sebelahku.

Lalu, besoknya kita akan menghabiskan hari lagi bersama-sama. Satu hari, dua hari, seminggu sampai sudah berbulan-bulan sejak kita menikah. Pernikahan yang hanya dihadiri kurang dari jumlah jari tangan. Tapi aku tidak peduli, dan kau pun tidak.

Katamu ‘Tidak perlu banyak tamu, kebahagianku sudah lebih banyak untuk memenuhi tempat ini.’
Itu puisi di telingaku. Setelah hidup bertahun-tahun di bagian paling kumuh jalan raya ini.

Bulan madu kita? Sampai hari ini kita masih berbulan madu menurutku. Ketika kau gendong aku di punggungmu, dan aku menunjuki jalan mana yang harus kita lewati. Karena katamu, matamu adalah aku. Seperti kau yang selalu menjadi jejak kakiku.

Selasa, 28 April 2015

Kepada Aku


Kepada Aku yang berada entah jauh dimana
Bagaimana kabar kita?
Riuh riak amarah telah menepi kelelahan
Isak ratap tangisan telah menggenang pelan-pelan
Saat semua diam, lagi-lagi sesal akan datang menggerayang

Kepada aku yang berada entah jauh disana
Angan telah menjelma serupa rajam
Cita mengolok ingatan hingga tersungkur bungkam
Lalu, adakah aku teringat pulang?

Untuk aku yang berada entah jauh disana,
Pintaku hanya sekata pulang,
Temani Aku-mu sebelum membayang hilang..



Senin, 30 Maret 2015

Bertemu

“Enjay, heeiii..”
Deg!Enjay?
Ia memutar pandangannya sejenak.
‘Enjay?Rasanya tak asing’ lalu iapun melanjutkan langkahnya pergi.
“Hei..Enjay. Kamu Enjay kan?”suara itu kini tepat di belakangnya.
“Ranu?”

Caffe itu terkesan santai. Dekorasi minimalis yang disandingkan dengan live music di tengah ruangan membuat siapapun tidak berat hati untuk sekedar mampir di salah satu sofanya. Juga Rinjay, dan Ranu, si lelaki dari masa lalu.

“Masih ingat suasana ini?” Si lelaki melempar pertanyaan basa basi.
“Tentu, masih suasana yang sama dengan tahunan lalu. Kaupun tidak berubah”
“Kau juga, masih saja memesan menu yang sama”
“Hahaha, masih ingat rupanya”
“Tidak mudah melupakan kebiasaan, Enjay”
“Asing rasanya kau memanggilku begitu.Seperti aku kembali ke masa lajangku”
“Hahaha, lucu ya? Sekarang kau sudah punya anak dan akupun akan segera menikah”

Ranu lalu mengambil sehelai undangan dari dalam ranselnya.

“Kebetulan sekali aku sedang membawa sample nya, tidak ada salahnya jika ku berikan satu”
Undangan itu berpindah tangan, dibuka lantas dibaca isinya.
“Ouh, sepertinya aku tidak bisa hadir. Kami akan pindah ke Sulawesi akhir minggu ini.”
“Oh ya? Bertepatan sekali,akupun akan menetap di Sumatera setelah pernikahanku nanti” timpal Ranu.
“Sepertinya kita memang kebetulan sekali bertemu, ya?”
Tidak ada yang menjawab. Seperti keduanya tahu, tidak ada hal yang dinamakan dengan kebetulan.
“Urusanmu sudah selesai?” Ranu beralih topik
“Ya. Kau?”
“Aku juga, bagaimana jika hari ini kita berjalan-jalan sebentar”
Where?”
No idea” si lelaki mengerling jahil ,seperti dulu, seperti biasa.

Rinjay mengerti apa yang dimaksud dengan “tidak tahu”. Artinya, mereka akan pergi kemana saja mereka bisa. Kemana saja asal mereka masih punya waktu, kemana saja asal mereka tidak bosan. Kemana saja..

“Tidak ada yang kebetulan, iya tidak?”
Rinjay tersenyum simpul. “Lalu menurutmu apa alasannya kita bisa bertemu seperti ini lagi?”
Hening.
“Enjay, aku masih punya janji.Aku akan menemuimu..”
“..saat perasaanmu dan perasaanku sudah berubah biasa saja” tanpa sadar Rinjay mengucapkan kata-kata yang sama. Spontan, keduanya terdiam dan saling melempar pandang, pandangan yang bercerita banyak.
“Jadi sekarang, akan ku ceritakan semuanya padamu. “

Tirai cahaya senja sudah mulai dibentangkan. Temaram dan hangat menjadi bumbu tersendiri bagi pertemuan keduanya. Saat Ranu mulai bercerita, satu dua butir air mata Rinjay mulai jatuh dari pelupuknya.
“Ranu, maaf..”isak Rinjay. Di depannya, Ranu tidak berani berbuat apa-apa. Ada tembok yang sejak tahunan lalu membatasi keduanya. Tembok yang menghancurkan apapun yang dulu pernah berdiri kokoh di antara keduanya. Tembok yang membuat Ranu membiarkan Rinjay menghapus sendiri air matanya sekarang.

 “Jadi, begini penutupnya ya?” ucap Rinjay lirih
“Ku rasa”
“Berarti, sudah waktunya juga ku ceritakan semuanya.”
Ranu menoleh, mencari kata-kata sambungan berikutnya. Menunggu setiap detil cerita, menyimak setiap potongannya. Sekali,untuk yang terakhir.

Rinjay mengembalikan lagi undangan bersampul rapi itu.
"Ingat tidak? Aku selalu mendorongmu untuk memulai hubungan baru setelah hubungan kita berakhir. Ketika tahu, ternyata gadis itu adalah dia, jujur saja aku merasa sakit. Ternyata, aku sendirilah yang menjauhkan kalian berdua. Menjauhkanmu dari gadis yang sudah kau cintai sebelum aku. Aku sadar bahwa kau memang masih menyukainya, jadi sejak waktu itu ku pastikan untuk betul-betul pergi"

Temaram senja sudah berganti gulita. Lampu-lampu taman sudah dinyalakan. Senyap sudah mulai bertebaran.

Sepi, tidak ada kata-kata lagi. Di bangku taman, Ranu masih duduk memandangi punggung si wanita yang sudah berjalan jauh meninggalkannya. Entah sejak kapan, rasanya wanita itu sudah pergi sangat jauh. Jauh meninggalkan hatinya.



Jumat, 20 Februari 2015

Bahagia Bersyarat

Katanya, bahagia itu milik siapa saja. Iya tidak?

Tadinya ku pikir tidak. Bahagia itu adalah milik mereka yang tidak perlu khawatir tentang besok pagi. Bahagia itu adalah milik mereka yang bisa pergi kemanapun dan kapanpun. Bahagia itu adalah milik mereka yang bisa melakukan apapun yang mereka mau. Bahagia itu bersyarat. Sementara aku, tidak punya apapun dari semua syarat itu. Jadi, apa alasannya aku bahagia?

Dia.

Malam ketika aku bertemu dengannya, adalah kali pertama aku tahu seperti apa bahagia. Dia membawa bahagia bersamanya. Tidak ada yang spesial, dia sama seperti orang-orang jalanan pada umumnya. Tapi, dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh kami. Wajahnya yang damai.

Tidak perlu alasan bagiku untuk selalu dekat-dekat dengannya, kecuali karena aku bisa merasakan damai. Jadilah aku selalu menguntitinya kemana pergi.

Setahun, sampai kami betul-betul dekat. Setiap hari dalam setahun, tidak ada satupun yang alfa dari cerita menyenangkan dengannya. Dia itu selalu konyol, dan kadangkala tidak masuk akal. Pernah suatu kali, dia mengajakku berkencan. Ya kencan yang romantis.

Apa yang kamu bayangkan? Bukan, dia tidak memberiku bunga atau cokelat. Tapi dia memberanikan diri berdiri di tepian sebuah kolam yang kami namakan bundaran HI.Sekuat-kuatnya, dia memekik

“AKU SAYANG KAMU!!!” lalu meceburkan diri. Apalagi selanjutnya? Petugas keamanan datang dan mengejar-ngejar kami.

Dia selalu penuh kejutan, atau menurutku dialah kejutannya. Aku ingat dia pernah bertanya,
‘dik, apaa yang kamu harapkan jika menikah?’
‘walaupun tidak mewah, aku selalu ingin pernikahanku dihadiri banyak orang.’

Dan diapun mewujudkannya.
Hari itu, dia membawaku ke suatu tempat. Tidak memberi tahu kemana dan hendak apa. Di sana ada banyak pasangan tengah memakai jas dan gaun pengantin lalu berpose di depan kamera, ternyata sebuah pameran gaun pengantin.

‘Dik, ikut perlombaan yuk? Katanya pasangan yang paling serasi akan dapat hadiah’ aku menurut saja. Jadilah kami berpose di depan kamera, bergaya layaknya sepasang pengantin yang bahagia. Aku memang bahagia, apalagi saat tiba-tiba dia mengeluarkan cincin dari sakunya.

‘Dik, aku mau kamu menjadi pasanganku. Bukan hanya hari ini, tapi sampai besok dan selamanya’

Semua orang bertepuk, riuh rendah terlebih ketika beberapa orang maju ke depan dan membantu prosesi pernikahan lainnya. Dia memberikan hadiah paling indah hari itu.

***

“Tapi dia tidak seromantis ayah, Bu.”
“Pria romantis itu banyak, tapi yang akan betul-betul menyentuh hatimu cuma satu.”
“Tapi bu, aku takut. Kami selalu bertengkar karena hal-hal sepele. Bagaimana rumah tangga kami ke depannya?”

“Hmm..anakku, ketika ada seseorang yang membuatmu sangat hidup, apapun akan kamu lakukan untuk mempertahankannya, bukan? Itu alasannya mengapa aku memilih ayahmu. Dan aku tahu, alasan yang sama berlaku untukmu.Dalam setiap pertengkaran, selalu ada kasih sayang yang melatarinya, yang perlu kalian cari tahu dimana semua bahagia itu kalian simpan. Sudah waktunya tidur anakku, besok temui dia dan bicarakan masalah kalian baik-baik” ku kecup keningnya kemudian berlalu.

Sebelum menutup pintu, ku sempatkan menatapnya sekilas.
‘Puteri kecil kita sudah menemukan bahagianya’ batinku tersenyum.

Ku temui kamu di ruangan satunya, tengah tertidur pulas. Wajah damaimu itu,  aku tidak pernah bosan memandangnya.Wajah yang ku temukan sejak 30 tahun lalu, sampai hari ini masih terlihat sama saja.


‘terimakasih sudah melengkapi syarat bahagiaku’.

Senin, 16 Februari 2015

Everlasting You (FlashFict)

‘lily,rasanya kota baru ini sepi tanpa kamu.pokoknya kamu harus balas surat aku terus ya’
Itu surat pertamamu.

‘lily, aku sudah masuk SMP. Di sini aku banyak teman, tapi aku tetep kangen kamu. Jangan telat balas surat aku dongL
Meski sudah 1 tahun, tapi aku masih sering lalai membalas suratmu,

‘Lily, ujian masuk SMA ternyata sulit. Aku harus banyak berlatih soal, tapi aku bakal terus kirim surat ke kamu kok. Jaga kesehatan kamu ya
Hei, harusnya aku yang bilang seperti itu..!

‘Lily, aku sekarang masuk tim basket sekolah.Jadi tahu ternyata diidolakan itu rasanya begini. Kamu jangan cemburu ya ;) ‘
Aku tahu kamu bohong. Lari 100 meter saja kamu bisa pingsan!

‘Lily, aku mengkhawatirkanmu. Kata Paman kamu sakit lagi, kenapa tidak cerita?
Kamu bisa langsung pesan tiket pesawat kalau aku ceritakan.

‘Lily, aku kangen kamu. Padahal baru kemarin aku sampai lagi di Jakarta. Kamu sekarang sudah besar ya, cantik sekali.. J
Kamu masih sama, selalu membuatku berdebar..
***
Aku mengusap lembut kotak persegi pemberianmu, sudah terasa usang di beberapa sisi. Tersenyum mengingat apa saja yang sudah ku simpan di dalamnya. Semua surat yang ku terima sejak kita masih SD,lalu beranjak SMP, SMA, sampai kamu kuliah dan lulus.

Surat yang selalu berisik menanyakan kabarku,
Surat yang banyak bercerita tentang tempat yang kita sebut kota,
Surat yang selalu datang bahkan sebelum kamu menerima balasanku,
Surat yang tiba-tiba hilang entah kemana.

‘Lily, Rehan kecelakaan pesawat sebulan yang lalu. tapi jasadnya belum ketemu’

Surat lain datang menggantikan suratmu. Bukan menanyakan kabarku.Tidak, tidak pernah ada lagi yang menanyakan kabarku. Sejak hari itu, dan hari-hari berikutnya tidak ada lagi surat yang dikirimkan untukku.
***
‘Lily,tolong pertimbangkan lagi. Sudah waktunya memikirkan masa depanmu’ 
Sudah berapa kali papa datang kepadaku, menanyakan hal yang sama. Berusaha mencari celah untuk mengubah keputusanku.

Kata papa, sudah seminggu terakhir orang itu datang ke rumah. Sekali, hanya mengobrol santai dengan papa. Kedua kali, dia datang bersama beberapa orang lain. Lalu beberapa kali, mereka betul-betul berusaha mendekatiku. Rehan, apa yang harus ku lakukan?

Rehan,
Kamu kemana saja?
Aku tidak pernah sempat mengatakan ini padamu. Dunia yang tidak ada suara dan cahaya di dalamnya, duniaku. Kamu seperti tahu seperti apa rasanya. Surat-surat berhuruf braille yang sering kamu kirimkan, tidak ada orang yang mau bersusah payak membuatnya sepertimu. Terimakasih Rehan...

Rehan, duniaku akan sangat berbeda seandainya kamu tidak pernah ada. Seandainya surat-suratmu tidak pernah bercerita banyak, seandainya kehadiranmu tidak bisa menawar gulita duniaku. Pasti akan berbeda jadinya.

Hari ini, mereka datang lagi menawarkan donor mata. Harusnya aku senang bukan?

Tapi, apa jadinya kalau aku kenal dunia yang tidak ada kamu di dalamnya? Sampai hari inipun, rasanya kamu masih ada di sini, Rehan. Dekat dengan cerita-cerita di dalam suratmu. Tapi, bagaimana jika aku mulai lupa cara membacanya?

Rehan, aku sudah menyukaimu sejak pertama kali. Menyukai caramu mengingatku, kebaikanmu, usahamu. Aku jatuh cinta padamu..

Rehan, aku tahu kamu akan marah, tapi cukup bagiku mengenal dunia ini saja.
Dunia dimana aku tetap bisa melihat dengan cerita-ceritamu,
Bisa mendengar dari omelan-omelanmu,
Bisa tetap merasakanmu, tinggal dalam hatiku.

Bagiku ini selalu cukup..