Jumat, 22 Januari 2016
Sabtu, 16 Januari 2016
Puzzle Terakhir
PUZZLE TERAKHIR
A Story By : Adoh.
Moura.
Aku merengkuh di atas
bantal persegi-ku, mengotak atik ponsel sembari memijat-mijat punggungku yang
bak ditimpa beban 100 kg.
Jam digital-ku sudah
tiba di angka 5, tapi cahaya di balik jendela selebar dindingku seperti tidak
mau ikut serta mengakhiri siang begitu saja, matahari masih terik. Di jam-jam
seperti ini aku sangat gemar duduk di sini, sebuah jendela lebar sedinding yang
mempertontonkan cahaya matahari yang malu-malu turun dari singgasananya. Di
balik tirai transaparan jendela kamarku, aku bisa menonton rona-rona merah
membuncah di kanvas cakrawala, menandakan senja sudah hampir tiba.
Malas-malas aku
memutar kursor hanya untuk melihat sudah seberapa jauh pekerjaanku sepanjang
siang tadi. Sembari meneguk sirup mangga dari gelas yang mengembun di sebelah
meja lipatku, aku mengkoreksi beberapa tanda baca sebelum akhirnya menekan icon
bergambar disket di sudut atas kiri dan icon silang di sudut berlawanan.
Beralih ke browser
“google chrome” aku memutuskan untuk menyelingkuhkan otak-ku dari makalah yang
sudah sesiang ini menganga di layar 11” itu. Sebuah tampilan dengan warna dasar
putih berhiaskan biru muncul di layar browser, facebook.
“Randa Moura(Amoura)”
, aku mulai mengacak-acak akun berusia 3 tahun ini, menjelajahi beranda dan
mengomentari status-status yang muncul di beranda.Memutar kursor ke bawah,
mengomentari, memutarnya lagi dan..
Sederet kalimat
mengejutkanku,
“Bandara International Minangkabau->Soekarno Hatta-> Wisma Asri,
Bandung”. Seperti diburu setan, tanpa ba bi bu aku membuka akun miliknya dan
membaca status-statusnya.”Mau kemana dia? Apa yang dilakukannya di
sini?”tanyaku dengan detak jantung yang menggebu-gebu.
Belum sempat aku menghela napas, status berikutnya membuatku nyaris
menjerit.
“Sampai jumpa di seminar ya”.
Aku tersedak, seminar apa yang dimaksudnya? Wisma Asri? Seminar? Itu kan…
***
Atta.
Kota ini jauh berbeda dengan kota-ku. Di Pulau
Sumatera, tidak ada kemacetan sepanjang ini apalagi teriakan klakson bus kota
yang sahut menyahut memecah gendang telinga, bising sekali. Aku baru tiba di
Kota Jakarta. Cukup sejam saja waktu-ku untuk meyakinkan tidak ada alasan untuk
tertarik tinggal di kota penuh debu seperti ini.
Elf-kami meluncur di jalan raya. Keempat
rodanya saling memacu meninggalkan senti demi senti Bandara Soekarno-Hatta,
tempat kami dijemput oleh panitia. Matahari cukup terik, September menyapa kota
ini dengan panasnya. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh badan elf. Sekitar 10
orang sedang larut dengan fantasinya masing-masing. Aku bersebelahan dengan
Nanda, peserta asal Sulawesi. Duduk di kursi sebelah supir, Lika, satu-satunya
penumpang wanita dan panitia yang menjadi guide
kami sejak tiba di Cengkareng tadi. Dari Nanda, aku tahu bahwa Lika adalah
seorang reporter Stasiun televisi swasta Kota Bandung. Untuk ukuran perkenalan
kami yang belum seumur jagung, Nanda tahu terlalu banyak tentang Lika. Seperti
laki-laki 24 tahun itu sudah mengenalnya jauh lebih dulu.
“Kira-kira kita sampai jam berapa ya?”bisikku
pada Nanda
“Umm..aku kurang tahu,tunggu sebentar”, Nanda
mengetikkan pertanyaan-ku di layar ponselnya dan send to Lika, aku semakin curiga.
“Kita akan sampai sebelum pukul 3 sore ini”
jawabnya kemudian.
“Oh baiklah, terimakasih” ucapku sembari
membiarkan Nanda kembali asik dengan sms-smsnya.
Aku merogoh ponsel-ku, melihat jam digital yang baru menunjukkan angka
13:15. Di menu facebook, aku mencari-cari nama seseorang di daftar “obrolan”,
membuka profilnya, berharap menemukan sesuatu di sana.
“belum mengertikah dia?”aku mencelus.“Touch
down Bandung, on the way to Wisma Asri” ketikku lalu mematikan internet.
Di luar jendela, jalanan membelok ke arah tol
Cipularang, menyuguhkan pemandangan baru yang lebih sepi dibandingkan
jalan-jalan kota yang kami lalui tadi. Udara AC perlahan mengusik
kenyamanan-ku. Kantuk menjalar secepat air yang merembesi helaian tisu. Aku
menyerah saja.
***
Moura.
Aku menekan bel rumah berukuran sederhana itu, untuk kedua kalinya namun
tidak ada jawaban. Gugup, kesal dan bingung, akhirnya aku menekan bel untuk
ketiga kalinya. Tepat sebelum menyentuh permukaan bel, terdengar suara pintu
dibuka dari dalam. Seorang wanita tua berbalut daster muncul di balik pintu. Tanpa
membuka utuh pintu rumahnya, si wanita tadi melempar pandangan mencela ke
arahku lalu menggumamkan sesuatu yang ku dengar sebagai, “tidak tahukah ini jam
tidur siang?”
Aku berusaha tersenyum semanis-manisnya, sembari berkata “ Maaf Bu, saya Amoura
yang tempo hari menelepon Ibu untuk wawancara…blaa blab la”
Perbincangan kami berlangsung panjang. Setelah menyuguhkan teh yang
terlalu manis, dan biskuit cokelat di hadapanku, wanita itu mulai memaparkan
beberapa jawaban skeptisnya. Tanganku bergerak jeli, mencatatkan beberapa
kalimat penting sembari menjaga ‘koneksi’-ku tidak terputus dari gambaran yang
diberikan oleh si narasumber wawancara.
Aku menutup wawancara kami dengan sempurna. Satu jam wawancara kami berakhir
tepat di pukul 3 sore. Ini wawancara-ku yang ketiga minggu ini, sekaligus juga
narasumber terakhir yang akan aku muat di dalam makalah untuk seminar-ku besok.
Aku sangat gugup, sebenarnya takut. Sudah sebulan terakhir aku
mempersiapkan topik makalah yang akan ku bawakan pada seminar besok. Sekitar 90
jurnalis akan hadir di sana, dan Atta? Ya mungkin saja dia salah satunya.
Jalanan Dago selalu riuh dengan warna-warni kota Bandung. Musisi jalanan,
muda-mudi bahkan orang tua selalu menemukan alasan unik untuk sekedar singgah
di monumen “D A G O” bercatkan merah di simpang ini.
Dari jalan Taman Sari aku sengaja membelokkan rute-ku ke Simpang Dago. Tujuanku bukan Simpang Dago,
namun bangunan yang berjarak setengah kilometer darinya, Wisma Asri. Aku memacu
sepeda motor dengan kecepatan 45 km/jam. Namun kecepatan detak jantung-ku
seperti tidak ingin kalah. Serasa berdetak 10x lebih cepat, aku semakin tidak
karuan ketika tiba di pintu wisma.
“Welcome to The National Journalist Seminar 2014”, sebuah spanduk bercorak
hijau-orange menyambut aku yang
memaku di pintu utama. Beberapa kerumunan peserta sudah nampak di anjungan
depan. Riuh redam berkenalan dengan beberapa peserta dari daerah berbeda,
tampaknya.
Aku tidak sedikitpun terusik oleh euforia di sana. Masih di depan pintu,
perang dingin berkecamuk dalam otak-ku. Hanya beberapa langkah di depan, aku
bisa menemukan nama yang ku cari dan letak kamarnya di denah. Tapi keberanianku
surut bahkan untuk mendekat satu langkah saja. Aku bisu dan lumpuh, ingatanku
seperti tidak ingin kompromi dengan memori baru si ‘masa silam’-ku itu, ku
putuskan untuk pulang saja.
***
Atta.
“Finally Banduuung..yeeee!” pekik salah seorang
peserta merenggut kantukku dalam sekejap. Elf yang ku tumpangi kini sudah
bertengger bersebelahan dengan bus peserta lainnya. Beberapa peserta sudah
turun ke halaman bangunan yang aku tebak sebagai Wisma Asri, tempat kami
menginap selama seminggu ke depan.
Aku tidak mau ketinggalan. Dengan nyawa yang belum terkumpul seutuhnya,
aku menarik ransel ke atas bahu, mendekati Nanda yang berdiri tepat di belakang
Elf, tidak ada Lika.
“Kemana guide kita?” tanyaku
pada Nanda
“Itu..”tunjuknya pada dua sosok wanita di pintu utama wisma.”ayo
kesana”
Aku berjalan di belakang Nanda, mendatangi Lika
yang sudah menunggu kami tepat di mulut Wisma. Tapi langkahku seketika terhenti
saat menyadari siapa yang ada bersamanya. Nafasku serasa hilang dalam sekejap,
jantungku berdetak berkali-kali lebih cepat, adrenalinku meningkat drastis.
“Amoura..”nama itu hilang di tenggorokanku bahkan
sebelum berhasil diucapkan. Wanita dengan jepitan yang menjumputi rambut melampaui
bahu itu sepertinya tidak sadar ada mata yang melekat dalam padanya. Mataku,
lidahku, otakku semua kehilangan keseimbangannya, bahkan untuk berteriak
memanggil 1 nama saja, namanya.
Aku membiarkan saja sosok itu berlalu di depan
kami, bahkan tanpa menoleh.
***
Moura.
“Kriing kriiing kriiiing..”alarm-ku memekik dari atas meja. Masih dalam
keadaan belum sepenuhnya sadar aku merangkak super malas-malasan lalu menekan
tombol “off”.
Matahari sudah terang di luar jendela, namun itu tidak berhasil membujukku
untuk bangun sama sekali.Kasur yang empuk,
bantal yang lucu seperti tersenyum melebarkan tangan menungguku kembali
menghampirinya.Udara pagi Bandung selalu berefek sama, kantuk yang menyerang
tanpa ampun membuatku malas bahkan untuk menarik turun selimut apalagi beranjak
ke kamar mandi.
Lima belas menit berselang, dering alarm kedua terdengar dari ponsel.
“Iyaaa..iyaaa..” aku menyerah.
Kejadian berikutnya, aku sudah meluncur di antara pengendara sepeda motor lainnya.
Dari jembatan layang, aku bisa melihat kabut masih betah berlama-lama
menyelimuti pemukiman penduduk yang ramai di kaki bukit, wajah Bandung di pagi
hari.
Aku berbelok turun dari jembatan layang tepat ketika papan penunjuk arah
menunjukkan arah Dago. Mengambil rute lurus lalu berbelok di Simpang Dago, aku
berhenti tepat di gerbang Wisma. Membelokkan arah menuju parkiran dan memilih
posisi paling nyaman untuk meninggalkan matic-ku
di sana.
Aku terkesiap saat menyadari ada sepasang mata menancap tajam melalui kaca
jendela. Darahku berdesir, saat sadar siapa pemilik mata itu. Semua buyar,
jantungku berhenti berdetak dan otakku menolak untuk berfikir, aku membeku.
Saat kudapati kembali kesadaranku, yang bisa kulakukan hanya berlari
sekencangnya.Tidak ingin menoleh, tidak ingin tahu apapun tentang orang itu.
“Dia tidak ada di sana!Itu bukan diaa..dia tidak ada di sana” ucapku
berkali-kali.
***
Atta.
Apapun yang ku dengar tentang Kota Bandung,
tidak ada yang keliru. Udaranya yang dingin, segar dan etnis yang berkembang di
dalamnya, semuanya menakjubkan. Aku merapatkan jaket sebelum beranjak turun ke
ruang makan untuk sekedar menyeruput teh hangat, sangat menggiurkan pada suhu
seperti ini.
Ruang makan sudah ramai, koridor pun masih
padat oleh para peserta yang baru tiba. Semuanya menggunakan name-tag, akupun
sama. Bersama Nanda, dan Septa-teman sekamarku, kami memilih sebuah meja paling
sudut untuk menikmati menu sarapan pagi itu, nasi kuning dengan ayam suwir
menghiasi permukaannya. Melalui kacanya yang transparan, ruangan ini
menyuguhkan pemandangan taman belakang dan juga lapangan parkir di sisi yang
berbeda.
Saat pandanganku tertuju ke lapangan parkir,
aku terkejut dengan apa yang kutemukan di sana. Seorang wanita berambut digerai
melampaui bahu, dengan jepitan menjumput beberapa helai rambutnya ke belakang.
Sweater yang meliliti lehernya yang telanjang, dan beberapa rambut ikalnya yang
terjatuh di depan telinga, gaya yang familiar. Apa kabar dia?
Entah apa yang menggerakkan kakiku, tiba-tiba aku
sudah berada sangat dekat dengan sosok itu. Hanya ada kaca jendela yang
menghalangi kami. Aku menatap selekat-lekatnya. Ada rasa yang membuncah
melampaui akal-ku yang aku tidak tahu masih normal atau tidak.
Sadar sedang diamati, wanita itu mengedarkan
pandangannya ke arahku. Matanya yang berwarna cokelat seketika terkunci dengan
mataku.Saling menatap lekat satu sama lain, tatapan kami seperti sedang
berbincang tentang sesuatu, luka lama.
Mata kami bertautan selama beberapa menit.Saat
terlepas,dia lalu berlari sekencangnya, meninggalkan aku yang masih tenggelam
dengan ratusan tanda tanya. Dia menangis.
***
Dia masih menunggu, di antara gerombolan peserta perkemahan yang tersisa,
matanya awas mencari seseorang. Dengan rok yang berlumuran lumpur dan muka yang
kusam, gadis itu tak henti mengedarkan pandangannya ke seluruh peserta yang
masih di sana.
Hiruk pikuk peserta lambat laun memudar, meninggalkan dia yang masih termangu
seorang diri.
“ Heii masih nunggu ya?” seseorang merangkul pundaknya tiba-tiba,
“eh..iiya”
“Maaf ya baru selesai briefing-nya.
Hayu pulang”
Selalu tiba-tiba, laki-laki itu tidak pernah memberinya kesempatan apapun
bahkan hanya untuk berkata iya atau tidak. Dengan mata yang masih terbelalak
kaget, gadis itu berusaha mengimbangi tubuh bagian depannya yang sudah ditarik
lebih dulu.
Malam yang sepi, tidak berarti apa-apa baginya. Satu-satunya yang dia ketahui,
malam selalu damai saat dia bersama lelaki di sebelahnya. Mereka bergandengan
di sepanjang jalan pulang.
“Amoy..bolehkah
aku bertanya sesuatu padamu?”
“Iya..bertanya
apa?”
“Saat tamat sekolah
nanti, kamu akan kuliah dimana?”
“Aku belum
tahu, yang aku tahu aku selalu tertarik dengan Pulau Jawa. Bagaimana
menurutmu?” Gadis itu menjawab lantang, bersemangat dan antusias.
“Pulau yang
bising itu? Aku tidak pernah tertarik untuk mengunjunginya”
Jawaban si lelaki entah mengapa menghisap lagi semangatnya. Mengurungkan
niat si gadis untuk bercerita bahwa dia sudah melamar semua kesempatan yang
ada. Ada kesenjangan yang merayap pelan-pelan di antara mereka, seperti
memisahkan mereka di antara dua tebing yang berbeda.
To be continued...
Rabu, 16 Desember 2015
Andai Kamu hidup di zamanku, Nak
Aku tidak pernah sabar
menunggu mendung, melihat butir-butir kristal yang kemudian jatuh merayapi
kulitku yang telanjang.
“Jangan mandi hujan!”
Larangan itu sudah
rutin kudengar, setiap ibu melihatku mengintip jahil pada tirai langit yang
mulai kelabu. Tapi, bukan anak kecil seumurku rasanya jika tidak bersembunyi di
balik pintu, menunggu ibu hilang dari pandangan, lalu menghilang bersamaan
dengan daun pintu yang menutup.
“hmm..masa kecilku itu”
kenangku manis,
“Lalu apa yang kalian
lakukan di bawah hujan, Ayah?”
“Kami? Kamu tidak akan
percaya, Nak”
Aku tertegun sejenak,
membiarkan kenangan merayapi senti demi senti alam fikirku. Menghirup aroma
rindu yang perlahan merebak. Ya, aku rindu, rindu pada bau rerumputan,
rindu pada lembab tanah yang kami pijak. Waktu itu, kami akan berlarian di
tanah kosong, saling mengoper bola kecil yang kami buat dari rotan,memainkan
pelepah kelapa yang ditumpangi beberapa anak. Salah seorang di antara kami akan
menarik pangkal pelepahnya.
Bersorak-sorai saat
kecepatan mulaibertambah.
“Bolehkah aku
melakukannya suatu kali nanti, Ayah?”
Aku tersenyum, mengusap
pelan wajah kecil yang meringkuk di pahaku itu.
“Ya, tentu boleh, Nak.
Tapi kamu harus tidur sekarang. Karena aku punya lebih banyak cerita lagi
untukmu besok”
***
Aku menekur di
sebelahnya,melihat iri pada wajah damai bocah yang tengah terlelap di sebelahku
itu.Menatap wajahnya, mengingatkan aku pada wajah kecil yang hampir sama
bertahun-tahun lalu, wajahku.
“Andaikan kamu dapat
hidup dimasaku, Nak” Beberapa dekade sudah
berlalu, banyak episode kehidupan sudah berakhir. Pohon yang tumbuh pun telah
pula tumbang, berganti gedung-gedung yang tinggi menjulang, simbol perubahan
zaman. Perubahan itu menjalari semua aspek, terlalu dalam hingga merubah setiap
lapis kehidupan.
Tidak ada lagi
anak-anak yang berkejaran layang-layang, tidak ada lagi anak-anak yang bermandi
lumpur di tengah sawah, yang tertinggal hanya anak-anak yang meringkuk malas di
depan televisi,menonton serial drama atau berlomba menjagokan tokoh game yang
diperankannya.
“Ayah, pernahkah Ayah
menaiki punggung kerbau?”
“Ya, tentu. Kami
menaikinya ditengah sawah yang berlumpur milik ibuku”
“Boleh aku melakukannya
juga?”
“Tentu anakku, nanti.”
Kamu akan tersenyum
sumringah,menyamarkan guratan-guratan letih yang terurai di mukamu. Akupun
berusaha mengimbanginya, kepuasan yang terpantul dari wajah lancipmu itu.
“Andaikan kamu dapat
hidup dimasaku.Tentu kamu akan sebahagia aku.” Aku mendesah di dalam hati.
”Menaiki punggung
kerbau, merasakan licin lumpur yang lengket di permukaannya. Menarik
layang-layang dan berlarian mengejarnya, menaiki pelepah kelapa dan bergelut
diatasnya, menendang bola-bola rotan, apapun yang kamu inginkan, anakku.”
“Ayah, aku ingin duduk
di sebelahmu. Bolehkah aku turun dari kursi roda ini? “
“Tentu, Nak”
Aku meraihmu, menggeser
tiang infus yang mengaliri lengan kirimu. Aku merapikan kursi reot
kita,meletakkan bantal agar nyaman untukmu.
Aku masih ingat
kejadian pilu itu. Ketika sebuah pabrik baterai mengumumkan kebocoran limbah
yang hampir meracuni seluruh pemukiman penduduk di sekitarnya. Ibumu, dengan
kandungan delapan bulannya tidak dapat diselamatkan. Tapi nasib berpihak baik,
kamu selamat dengan leukemia yang menggerogoti seumur hidupmu.
“Tidurlah, Nak. Aku
akan memutarkan lagu kesukaanmu”
Lalu kita akan
tenggelam dalam alunan melodi, melambungkan lamunan pada batas tertinggi angan.
“Que sera sera,
whatever will bewill be. The future isn’t ours to see”
Sabtu, 23 Mei 2015
Bintangku
Bahkan ketika kelam beriak di angan,
Kau masih saja muncul,
Menyalakan asa mengibaskan lara
Bertahta di sana, setara dengan cita..
Kau tinggi,kau jauh,kau gemerlap
Kau bintangku,meski aku hanya serupa gelapmu..
Kau masih saja muncul,
Menyalakan asa mengibaskan lara
Bertahta di sana, setara dengan cita..
Kau tinggi,kau jauh,kau gemerlap
Kau bintangku,meski aku hanya serupa gelapmu..
Minggu, 10 Mei 2015
The abstract of me
Tidak jelas sejak kapan kita berkenalan.
Setahuku, kau sudah ada sejak aku masih baru bisa mengeja. Kau temanku
satu-satunya. Aku hanya tahu, orang-orang akan memandang aneh padaku, pada
kita.
Mama senang sekali melihatku bersamamu. Tapi
papa tidak, matanya geram melihat kau berada di dekatku. Papa tidak pernah
mengerti, aku tahu. Selalu mama yang mencegatnya jika papa mulai bertingkah
aneh hendak melerai kita berdua.
Aku tidak punya teman lain, cuma kamu.
Menurutku pun cukup kita saja, tidak perlu orang ketiga. Omong-omong, kita
sudah dewasa. Sudah masuk SMA sekarang. Aku tumbuh seperti seorang lelaki, memang seharusnya
bukan? Tapi jangan bilang seperti papa, karena papa tidak
pernah mau disebut mirip denganku.
“Ma, kenapa papa selalu begitu?”
“Biarkan saja. Papamu hanya belum mengerti.”
Unexplainable things
‘Apa yang kau ketahui tahu tentang
Cinta Sejati?’ aku pernah bertanya seperti itu padamu.
Tapi kau selalu
tersenyum, lalu mengecup keningku. Dan kita akan berjalan lagi di pinggiran
jalan raya, membiarkan riuh redam irama jalanan melantun sesukanya. Yang pasti,
kita punya nada sendiri yang melantun hanya di telinga kita.
‘Mengapa kau datang
ke kota ini?’ aku juga pernah bertanya itu.
‘untuk bertemu
takdirku menemanimu.’
Seperti itu kata-katamu. Selalu semua itu diiringi irama
jalan raya di dekat tempat tinggal kita.Setiap malam kau
akan berbaring di sebelahku. Membelai
rambutku sampai aku tertidur.
Kau akan berbisik,
‘cinta sejatiku adalah kamu’. Itu akan cukup menjadi cerita penghantar tidur yang membuatku nyenyak
semalam suntuk. Saat aku bangun, kau selalu sudah duduk di sebelahku.
Lalu, besoknya kita
akan menghabiskan hari lagi bersama-sama. Satu hari, dua hari, seminggu sampai
sudah berbulan-bulan sejak kita menikah. Pernikahan yang hanya dihadiri kurang
dari jumlah jari tangan. Tapi aku tidak peduli, dan kau pun tidak.
Katamu ‘Tidak perlu
banyak tamu, kebahagianku sudah lebih banyak untuk memenuhi tempat ini.’
Itu puisi di
telingaku. Setelah hidup bertahun-tahun di bagian paling kumuh jalan raya ini.
Bulan madu kita?
Sampai hari ini kita masih berbulan madu menurutku. Ketika kau gendong aku di
punggungmu, dan aku menunjuki jalan mana yang harus kita lewati. Karena katamu,
matamu adalah aku. Seperti kau yang selalu menjadi jejak kakiku.
Selasa, 28 April 2015
Kepada Aku
Kepada Aku yang berada entah jauh dimana
Bagaimana kabar kita?
Riuh riak amarah telah menepi kelelahan
Isak ratap tangisan telah menggenang pelan-pelan
Saat semua diam, lagi-lagi sesal akan datang menggerayang
Kepada aku yang berada entah jauh disana
Angan telah menjelma serupa rajam
Cita mengolok ingatan hingga tersungkur bungkam
Lalu, adakah aku teringat pulang?
Untuk aku yang berada entah jauh disana,
Pintaku hanya sekata pulang,
Temani Aku-mu sebelum membayang hilang..
Senin, 30 Maret 2015
Bertemu
“Enjay, heeiii..”
Deg!Enjay?
Ia memutar pandangannya sejenak.
‘Enjay?Rasanya tak asing’ lalu iapun melanjutkan langkahnya
pergi.
“Hei..Enjay. Kamu Enjay kan?”suara itu kini tepat di
belakangnya.
“Ranu?”
Caffe itu terkesan santai. Dekorasi minimalis yang
disandingkan dengan live music di tengah ruangan membuat siapapun tidak berat
hati untuk sekedar mampir di salah satu sofanya. Juga Rinjay, dan Ranu, si
lelaki dari masa lalu.
“Masih ingat suasana ini?” Si lelaki melempar pertanyaan
basa basi.
“Tentu, masih suasana yang sama dengan tahunan lalu. Kaupun
tidak berubah”
“Kau juga, masih saja memesan menu yang sama”
“Hahaha, masih ingat rupanya”
“Tidak mudah melupakan kebiasaan, Enjay”
“Asing rasanya kau memanggilku begitu.Seperti aku kembali ke
masa lajangku”
“Hahaha, lucu ya? Sekarang kau sudah punya anak dan akupun
akan segera menikah”
Ranu lalu mengambil sehelai undangan dari dalam ranselnya.
“Kebetulan sekali aku sedang membawa sample nya, tidak ada
salahnya jika ku berikan satu”
Undangan itu berpindah tangan, dibuka lantas dibaca isinya.
“Ouh, sepertinya aku tidak bisa hadir. Kami akan pindah ke Sulawesi
akhir minggu ini.”
“Oh ya? Bertepatan sekali,akupun akan menetap di Sumatera setelah
pernikahanku nanti” timpal Ranu.
“Sepertinya kita memang kebetulan sekali bertemu, ya?”
Tidak ada yang menjawab. Seperti keduanya tahu, tidak ada
hal yang dinamakan dengan kebetulan.
“Urusanmu sudah selesai?” Ranu beralih topik
“Ya. Kau?”
“Aku juga, bagaimana jika hari ini kita berjalan-jalan
sebentar”
“Where?”
“No idea” si
lelaki mengerling jahil ,seperti dulu, seperti biasa.
Rinjay mengerti apa yang dimaksud
dengan “tidak tahu”. Artinya, mereka akan pergi kemana saja mereka bisa. Kemana
saja asal mereka masih punya waktu, kemana saja asal mereka tidak bosan. Kemana
saja..
“Tidak ada yang kebetulan, iya
tidak?”
Rinjay tersenyum simpul. “Lalu
menurutmu apa alasannya kita bisa bertemu seperti ini lagi?”
Hening.
“Enjay, aku masih punya janji.Aku
akan menemuimu..”
“..saat perasaanmu dan perasaanku
sudah berubah biasa saja” tanpa sadar Rinjay mengucapkan kata-kata yang sama.
Spontan, keduanya terdiam dan saling melempar pandang, pandangan yang bercerita
banyak.
“Jadi sekarang, akan ku ceritakan semuanya padamu. “
Tirai cahaya senja sudah mulai
dibentangkan. Temaram dan hangat menjadi bumbu tersendiri bagi pertemuan keduanya.
Saat Ranu mulai bercerita, satu dua butir air mata Rinjay mulai jatuh dari
pelupuknya.
“Ranu, maaf..”isak Rinjay. Di
depannya, Ranu tidak berani berbuat apa-apa. Ada tembok yang sejak tahunan lalu
membatasi keduanya. Tembok yang menghancurkan apapun yang dulu pernah berdiri
kokoh di antara keduanya. Tembok yang membuat Ranu membiarkan Rinjay menghapus
sendiri air matanya sekarang.
“Jadi, begini penutupnya ya?” ucap Rinjay
lirih
“Ku rasa”
“Berarti, sudah waktunya juga ku
ceritakan semuanya.”
Ranu menoleh, mencari kata-kata sambungan
berikutnya. Menunggu setiap detil cerita, menyimak setiap potongannya. Sekali,untuk
yang terakhir.
Rinjay mengembalikan lagi
undangan bersampul rapi itu.
"Ingat tidak? Aku selalu mendorongmu untuk memulai hubungan baru setelah hubungan kita berakhir. Ketika tahu, ternyata gadis itu adalah dia, jujur saja aku merasa sakit. Ternyata, aku sendirilah yang menjauhkan kalian berdua. Menjauhkanmu dari gadis yang sudah kau cintai sebelum aku. Aku sadar bahwa kau memang masih menyukainya, jadi sejak waktu itu ku pastikan untuk betul-betul pergi"
Temaram senja sudah berganti
gulita. Lampu-lampu taman sudah dinyalakan. Senyap sudah mulai bertebaran.
Sepi, tidak ada kata-kata lagi. Di
bangku taman, Ranu masih duduk memandangi punggung si wanita yang sudah
berjalan jauh meninggalkannya. Entah sejak kapan, rasanya wanita itu sudah
pergi sangat jauh. Jauh meninggalkan hatinya.
Jumat, 20 Februari 2015
Bahagia Bersyarat
Katanya, bahagia itu milik siapa
saja. Iya tidak?
Tadinya ku pikir tidak. Bahagia
itu adalah milik mereka yang tidak perlu khawatir tentang besok pagi. Bahagia
itu adalah milik mereka yang bisa pergi kemanapun dan kapanpun. Bahagia itu
adalah milik mereka yang bisa melakukan apapun yang mereka mau. Bahagia itu
bersyarat. Sementara aku, tidak punya apapun dari semua syarat itu. Jadi, apa
alasannya aku bahagia?
Dia.
Malam ketika aku bertemu
dengannya, adalah kali pertama aku tahu seperti apa bahagia. Dia membawa
bahagia bersamanya. Tidak ada yang spesial, dia sama seperti orang-orang
jalanan pada umumnya. Tapi, dia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh kami.
Wajahnya yang damai.
Tidak perlu alasan bagiku untuk
selalu dekat-dekat dengannya, kecuali karena aku bisa merasakan damai. Jadilah
aku selalu menguntitinya kemana pergi.
Setahun, sampai kami betul-betul
dekat. Setiap hari dalam setahun, tidak ada satupun yang alfa dari cerita
menyenangkan dengannya. Dia itu selalu konyol, dan kadangkala tidak masuk akal.
Pernah suatu kali, dia mengajakku berkencan. Ya kencan yang romantis.
Apa yang kamu bayangkan? Bukan,
dia tidak memberiku bunga atau cokelat. Tapi dia memberanikan diri berdiri di
tepian sebuah kolam yang kami namakan bundaran HI.Sekuat-kuatnya, dia memekik
“AKU SAYANG KAMU!!!” lalu
meceburkan diri. Apalagi selanjutnya? Petugas keamanan datang dan
mengejar-ngejar kami.
Dia selalu penuh kejutan, atau
menurutku dialah kejutannya. Aku ingat dia pernah bertanya,
‘dik, apaa yang kamu harapkan
jika menikah?’
‘walaupun tidak mewah, aku selalu
ingin pernikahanku dihadiri banyak orang.’
Dan diapun mewujudkannya.
Hari itu, dia membawaku ke suatu
tempat. Tidak memberi tahu kemana dan hendak apa. Di sana ada banyak pasangan tengah
memakai jas dan gaun pengantin lalu berpose di depan kamera, ternyata sebuah
pameran gaun pengantin.
‘Dik, ikut perlombaan yuk?
Katanya pasangan yang paling serasi akan dapat hadiah’ aku menurut saja.
Jadilah kami berpose di depan kamera, bergaya layaknya sepasang pengantin yang
bahagia. Aku memang bahagia, apalagi saat tiba-tiba dia mengeluarkan cincin
dari sakunya.
‘Dik, aku mau kamu menjadi
pasanganku. Bukan hanya hari ini, tapi sampai besok dan selamanya’
Semua orang bertepuk, riuh rendah
terlebih ketika beberapa orang maju ke depan dan membantu prosesi pernikahan
lainnya. Dia memberikan hadiah paling indah hari itu.
***
“Tapi dia tidak seromantis ayah, Bu.”
“Pria romantis itu banyak, tapi yang akan betul-betul
menyentuh hatimu cuma satu.”
“Tapi bu, aku takut. Kami selalu bertengkar karena hal-hal
sepele. Bagaimana rumah tangga kami ke depannya?”
“Hmm..anakku, ketika ada
seseorang yang membuatmu sangat hidup, apapun akan kamu lakukan untuk
mempertahankannya, bukan? Itu alasannya mengapa aku memilih ayahmu. Dan aku
tahu, alasan yang sama berlaku untukmu.Dalam setiap pertengkaran, selalu ada
kasih sayang yang melatarinya, yang perlu kalian cari tahu dimana semua bahagia
itu kalian simpan. Sudah waktunya tidur anakku, besok temui dia dan bicarakan
masalah kalian baik-baik” ku kecup keningnya kemudian berlalu.
Sebelum menutup pintu, ku
sempatkan menatapnya sekilas.
‘Puteri kecil kita sudah menemukan
bahagianya’ batinku tersenyum.
Ku temui kamu di ruangan satunya,
tengah tertidur pulas. Wajah damaimu itu, aku tidak pernah bosan memandangnya.Wajah yang
ku temukan sejak 30 tahun lalu, sampai hari ini masih terlihat sama saja.
‘terimakasih sudah melengkapi
syarat bahagiaku’.
Senin, 16 Februari 2015
Everlasting You (FlashFict)
‘lily,rasanya kota baru ini sepi tanpa kamu.pokoknya kamu harus balas
surat aku terus ya’
Itu surat pertamamu.
‘lily, aku sudah masuk SMP. Di sini aku banyak teman, tapi aku tetep
kangen kamu. Jangan telat balas surat aku dongL’
Meski sudah 1 tahun, tapi aku
masih sering lalai membalas suratmu,
‘Lily, ujian masuk SMA ternyata sulit. Aku harus banyak berlatih soal,
tapi aku bakal terus kirim surat ke kamu kok. Jaga kesehatan kamu ya’
Hei, harusnya aku yang bilang
seperti itu..!
‘Lily, aku sekarang masuk tim basket sekolah.Jadi tahu ternyata
diidolakan itu rasanya begini. Kamu jangan cemburu ya ;) ‘
Aku tahu kamu bohong. Lari 100
meter saja kamu bisa pingsan!
‘Lily, aku mengkhawatirkanmu. Kata Paman kamu sakit lagi, kenapa tidak cerita?
Kamu bisa langsung pesan tiket
pesawat kalau aku ceritakan.
‘Lily, aku kangen kamu. Padahal baru kemarin aku sampai lagi di Jakarta.
Kamu sekarang sudah besar ya, cantik sekali.. J’
Kamu masih sama, selalu membuatku
berdebar..
***
Aku mengusap lembut kotak persegi
pemberianmu, sudah terasa usang di beberapa sisi. Tersenyum mengingat apa saja
yang sudah ku simpan di dalamnya. Semua surat yang ku terima sejak kita masih
SD,lalu beranjak SMP, SMA, sampai kamu kuliah dan lulus.
Surat yang selalu berisik
menanyakan kabarku,
Surat yang banyak bercerita
tentang tempat yang kita sebut kota,
Surat yang selalu datang bahkan
sebelum kamu menerima balasanku,
Surat yang tiba-tiba hilang entah
kemana.
‘Lily, Rehan kecelakaan pesawat
sebulan yang lalu. tapi jasadnya belum ketemu’
Surat lain datang menggantikan
suratmu. Bukan menanyakan kabarku.Tidak, tidak pernah ada lagi yang menanyakan
kabarku. Sejak hari itu, dan hari-hari berikutnya tidak ada lagi surat yang dikirimkan
untukku.
***
‘Lily,tolong pertimbangkan lagi.
Sudah waktunya memikirkan masa depanmu’
Sudah berapa kali papa datang kepadaku,
menanyakan hal yang sama. Berusaha mencari celah untuk mengubah keputusanku.
Kata papa, sudah seminggu terakhir
orang itu datang ke rumah. Sekali, hanya mengobrol santai dengan papa. Kedua
kali, dia datang bersama beberapa orang lain. Lalu beberapa kali, mereka
betul-betul berusaha mendekatiku. Rehan, apa yang harus ku lakukan?
Rehan,
Kamu kemana saja?
Aku tidak pernah sempat mengatakan ini padamu. Dunia yang tidak ada
suara dan cahaya di dalamnya, duniaku. Kamu seperti tahu seperti apa rasanya.
Surat-surat berhuruf braille yang sering kamu kirimkan, tidak ada orang yang
mau bersusah payak membuatnya sepertimu. Terimakasih Rehan...
Rehan, duniaku akan sangat berbeda seandainya kamu tidak pernah ada.
Seandainya surat-suratmu tidak pernah bercerita banyak, seandainya kehadiranmu
tidak bisa menawar gulita duniaku. Pasti akan berbeda jadinya.
Hari ini, mereka datang lagi menawarkan donor mata. Harusnya aku senang
bukan?
Tapi, apa jadinya kalau aku kenal dunia yang tidak ada kamu di
dalamnya? Sampai hari inipun, rasanya kamu masih ada di sini, Rehan. Dekat
dengan cerita-cerita di dalam suratmu. Tapi, bagaimana jika aku mulai lupa cara
membacanya?
Rehan, aku sudah menyukaimu sejak pertama kali. Menyukai caramu mengingatku,
kebaikanmu, usahamu. Aku jatuh cinta padamu..
Rehan, aku tahu kamu akan marah, tapi cukup bagiku mengenal dunia ini
saja.
Dunia dimana aku tetap bisa melihat dengan cerita-ceritamu,
Bisa mendengar dari omelan-omelanmu,
Bisa tetap merasakanmu, tinggal dalam hatiku.
Bagiku ini selalu cukup..
Langganan:
Postingan (Atom)



