Tema jalan-jalan saya hari ini
sebenarnya adalah melarikan diri, dari perasaan kesal, marah dan kecewa saya.
Awalnya saya berencana untuk mendaki
gunung Gede Pangrango hari ini, 9 April 2016. Tapi dikarenakan ulah saya
sendiri, rencana yang sudah disusun sejak 2 bulan terakhir itu gagal total.
Saya tidak bisa berangkat akibat kaki kanan saya yang cedera ketika lari-lari
gak jelas dan keseleo di acara Outing perusahaan 3 minggu lalu. Man! Sudah 3
minggu dan belum sembuh-sembuh!
Okay, saya memang sudah bisa
jalan dengan sangat baik bahkan lari-lari. Tapi untuk jalan jauh dan nginjek-nginjek -bahasa saya untuk
mendaki dan menumpukan berat badan di kaki- pergelangan kaki saya masih sering
nyut-nyutan. Jadi, meskipun harus “menangis semalam”, akhirnya dengan berat
hati sayapun mengundurkan diri.
Tapi, diam di kamar kosan yang
ukurannya cuma 2x2 melototin laptop tapi pikiran saya terus ngebayangin “sedang
apa dan dimana” anggota tim saya saat ini, rasanya sayapun bisa depresi. Jadi,
saya putuskanlah kelayapan ke Kota Depok untuk sekedar mampir di “sarang”
mahasiswa-mahasiswa kelas wahit seantero nusantara, maksud saya di Perpustakaan
Universitas Indonesia, hehehe.
Sabtu adalah waktunya saya
hibernasi. Setelah senin sampai jum’at mencurangi jam tidur, biasanya pada hari
sabtu saya cuma bangun sebentar buat sholat subuh, trus nemplok lagi di bantal
sampai jam 9 atau kadang bablas sampe jam 10, duh!
Jadi, sebelum saya beranjak tidur
tadi malam, saya sempatkan dulu men-jarkom teman-teman kosan yang pasti bangun
pagi. Supaya saya dibangunin dan bisa berangkat ke Depok sesuai waktu yang
direncanakan.
Yap, saya berhasil bangun pagi!
Tapi, setelah masak trus beres-beres, trus baca-baca buku, akhirnya saya baru
berangkat jam 8, jiaaaah kesiangan juga jadinya!
Pukul 08.40, saya baru naik
kereta. Di perjalanan menuju stasiun akhir, stasiun Bogor, penumpang sudah
mulai terlihat ramai, meski tidak padat.
Jika berangkat dari Stasiun Pasar
Senen seperti saya, kamu cukup beli tiket di loket, nunggu di peron 6, duduk
manis di kereta, dan turun di Stasiun Universitas Indonesia, gak perlu
transit-transit. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 75-90 menit. Oiya,
ditambah harga garansi e-tiket kereta, kamu cukup membayar 13 ribu untuk sampai
di stasiun Universitas Indonesia. Letaknya tepat setelah stasiun Lenteng Agung
dan stasiun Univ. Pancasila.
Tips khusus buat kamu yang bawa
motor, lebih baik titipkan motor di area parkir luar stasiun kalau kamu gak mau
dompetmu melempem tiba-tiba! Karena, penitipan motor di area stasiun Pasar
senen ini akan memakan biaya 3 ribu perak/ jam-nya with No discount!
Sementara kalau di parkiran luar
stasiun, kamu cuma perlu bayar 3 ribu sampai maghrib, dan 5 ribu/ malam.
Taraaa.. stasiun Universitas
Indonesia
Ini adalah kali pertama saya
menginjakkan kaki di area kampus UI. Jadi, saya agak kebingungan menentukan destinasi
sewaktu sampai di sana. Ditambah ini adalah perjalanan melarikan diri, jadi
mana saya tau di UI ada apa saja buat dikunjungi?
Oke, setidaknya saya sudah punya
agenda mengunjungi perpustakaan, kalau-kalau mentok gak tau mau mampir di fakultas
yang mana.
Seperti halnya di Universitas
Andalas-universitas ternama di tanah kelahiran saya, di Universitas Indonesia
pun disediakan shuttle bus yang pasti akan berhenti di setiap halte.
Menurut perhitungan saya, di
dalam terdapat 38 kursi dengan susunan 16 kiri-16 kanan saling berhadapan, plus
5 di bagian belakang yang menghadap ke depan, dan satu supir. Bus ini nyaman, ber-AC
dan bersih.
Hal yang sangat saya sukai dari
rona kampus, adalah riuh suasana kampus tidak pernah terasa bising. Seberapapun
berisiknya, seberapapun sibuknya, muka-muka yang ada di sana adalah muka-muka
penuh semangat dan gelak tawa.
Saya suka melihat mahasiswa yang
duduk berkelompok sembari membawa buku atau kertas-kertas soal, duduk di taman
kampus atau ngemper ala kadarnya. Saya suka melihat mereka yang saling membagi
pengetahuannya, mereka yang saling peduli satu sama lainnya. Atau mereka yang
memanfaatkan sela waktunya untuk mengembangkan minat, seperti bermain musik
atau beladiri.
Eksplorasi saya berkisar antara
bus dan lokasi perpustakaan saja. Sempat terpikir untuk mampir di fakultas
ekonomi yang katanya dilengkapi jembatan merah , mahakarya alumnus arsitektur
UI ini. Tapi ya, lagi-lagi Cuma rencana doang, hehehe.
![]() |
Perpustakaan Universitas Indonesia |
Saya sengaja jalan agak memutar,
di samping ingin melihat-lihat, ada suara musik yang saya pikir adalah musik
pertunjukan barongsai atau sejenisnya. Tapi, setelah saya dekati ternyata mereka-mereka
ini yang sedang latihan
![]() |
Mahasiswa sedang berlatih musik |
Area kampus menurut penilaian
saya, sangat rapi, bersih dan cukup tertib. Sempat saya bertemu dengan ibu-ibu
penjual air mineral.
“Kalau mereka sampai berhenti dan turun, saya
harus lari secepat-cepatnya atau mereka pasti akan buru sampai dapat” tutur
beliau sambil menunjuk mobil patroli.
Yah, kebijakan memang selalu
punya dua sisi.
Baik, sebelum masuk ke
perpustakaan, saya sempatkan berkeliling area gedung dan melihat-lihat. Ternyata,
ada toko buku juga di sana, selain menjual buku fiksi dan nonfiksi populer,ensiklopedia,
DVD, ternyata ada tatto juga! Kayaknya sih yaa...
Terus, ada juga ruang
segede-gedenya, dengan sofa-sofa nyaman di tata serapi mungkin.
Yang saya sukai adalah, bangunan
ini dibalut dengan kaca, sehingga meski berada di dalam ruangan, mata kita
tetap leluasa mengamati riakan air yang disapu oleh hembusan angin di permukaan
danau, sejuk.
Jadi, akhirnya saya masuk ke
perpustakaan. Menggunakan identitas “pengunjung umum”, saya diharuskan
mendaftar dulu di website pengunjung Universitas Indonesia yang sudah dibukakan di komputer bagian administrasi perpustakaan. Dengan membayar
administrasi sebesar 5 ribu, saya diberikan kartu pengunjung yang berlaku satu
hari ini saja.
Selesai mendaftar, saya lalu
menitipkan tas ke loker yang disediakan. Di sini, KTP saya ditukar dengan kunci
loker dan tas plastik gede tempat saya menaruh laptop dan segala atributnya. Di
perpustakaan manapun, ini adalah prosedur standar, no bag, no jacket, no
camera!
Saya lupa ada berapa lantai
perpustakaan ini. Yang jelas, saya naik ke lantai teratas, mencari tempat
paling sepi, membuka laptop dan asik dengan pekerjaan saya sendiri.
Di sini, ada wireless yang
disediakan secara Cuma-Cuma. Tapi, tetap harus daftar terlebih dahulu. Mudah
kok!
Setelah terhubung dengan wireless
UI (saya lupa namanya apa), ketika membuka browser untuk pertama kalinya, kamu
akan langsung diarahkan ke website SSO ini :
Silahkan mendaftar dan konfirmasi
menggunakan link yang dikirimkan ke alamat email yang kamu masukkan ke form
pendaftaran ini.
Selesai dari perpustakaan, saya
turun dan menyempatkan diri duduk-duduk di pinggiran danau. Entah udara memang
sedang mendung, tapi saya betah duduk di sini hampir satu jam lamanya. Tempat
ini sejuk. Banyak mahasiswa yang duduk berkelompok, berdua atau hanya sendirian
seperti saya.
Niatnya, sepulang dari
perpustakaan, saya masih mau jalan-jalan. Saya menempuh jalan yang berbeda
dengan jalan ketika saya datang tadi. Saya berteori, harusnya jalur bus kampus
berikutnya adalah tempat ini, artinya saya tidak akan melewati rute bus yang
sama.
Namun, sepertinya saya keliru. Saya
justru melewati stasiun Universitas Indonesia tempat saya datang tadi pagi, yah
saya salah ambil rute. Bus berhenti di pos nya dan semua penumpang harus turun.
Saya batalkan rencana jalan-jalan, termasuk rencana mampir ke Fakultas Ekonomi.
Takut kesorean, karena waktu sudah menunjukkan pukul 2 lebih.
Berbeda dengan rute datang, rute
kembali ke Pasar Senen jauh lebih kompleks. Dari Univ Indonesia sampai ke
tebet, Manggarai, Tanah Abang, berputar ke Angke, kampung Bandan sampai ke
Pasar Senen, itu rute yang sebenarnya. Tapi dijamin lama bangeet!
Untuk mempersingkat waktu, kamu
bisa transit di Manggarai, transit lagi di Jatinegara, lalu terus ke Pasar
Senen. Walaupun agak ribet, it saves your time alot.
Tips lainnya, jangan jalan-jalan
pada waktu yang mendekati bulan puasa Ramadhan, atau lebaran Idul Fitri. Karena
kamu akan bertemu rombongan dengan barang belanjaan seabrek-abrek banyaknya. Hari
ini, saya bertemu beberapa.
Walaupun kaki saya kembali nyeri, yang jelas perasaan saya jadi agak ringan sekarang. Itulah saya, ketika sedang kecewa dengan keadaan, yang saya lakukan adalah jalan kemana saja, dalam atau luar kota, naik motor atau kereta. Yang jelas, saya ingin sendirian.
Walaupun kaki saya kembali nyeri, yang jelas perasaan saya jadi agak ringan sekarang. Itulah saya, ketika sedang kecewa dengan keadaan, yang saya lakukan adalah jalan kemana saja, dalam atau luar kota, naik motor atau kereta. Yang jelas, saya ingin sendirian.
Okay guys, see you then!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar